Manajemen Bencana Para Nabi

Nabi Nuh sangat dikenal dengan mukjizatnya yang tahu akan terjadi banjir katastrofe yang menelan sebagian besar belahan bumi. Nabi Nuh beserta umat dan fauna pengikutnya selamat dari bencana air bah dengan cara membangun bahtera yang bahkan dianggap sebagai perbuatan gila oleh umatnya. Pembuatan bahtera ini langkah persiapan yang dalam dunia kebencanaan disebut disaster preparedness.

Bisa dipahami dengan usianya yang hampir 1.000 tahun, Nabi Nuh memiliki pengalaman luar biasa banyak dalam berinteraksi dengan alam. Sangat mungkin Nabi Nuh mengalami beberapa kali tsunami atau bencana lain dan menjadi tahu gejala alam yang mendahuluinya. Allah SWT memberikan kemampuan Nabi Nuh menyusun pengalamannya menjadi pengetahuan kealaman yang jauh melampaui orang-orang di sekitarnya.

Hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah kita harus mampu memahami bahasa alam dan menyesuaikan dengan siklusnya. Dengan itu, kita mampu beradaptasi dan mempersiapkan diri dengan baik bila terjadi kondisi alamiah, seperti gempa dan tsunami.

 Hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah kita harus mampu memahami bahasa alam dan menyesuaikan dengan siklusnya. Dengan itu, kita mampu beradaptasi dan mempersiapkan diri dengan baik bila terjadi kondisi alamiah, seperti gempa dan tsunami Dengan metodologi dan teknologi mutakhir, kita tak perlu hidup 1.000 tahun untuk merangkum pengalaman ribuan tahun kebencanaan. Hal itu dapat kita pelajari melalui gadget di genggaman kita meskipun tentu tidak bisa menyamai pengetahuan profetik Nabi Nuh. Setidaknya, kita bisa belajar disaster preparedness ini seperti Nabi Nuh.

Kita juga tahu kisah bagaimana Nabi Ibrahim berani meninggalkan Hajar bersama Ismail kecil di tengah padang pasir tandus yang bagi orang biasa adalah tindakan bunuh diri. Keberanian ini terwujud bersama keteguhan hati dan semangat bertahan hidup Hajar, berlari bolak-balik dari Bukit Shafa ke Marwa mencari air yang kemudian menjadi ritus haji. Atas keimanan dan usahanya yang luar biasa, Allah SWT menolong mereka.

Dari kisah ini kita bisa belajar mengenai life survival, semangat dan kemampuan bertahan hidup, lalu pulih dari kondisi krisis secepat mungkin. Ini sangat penting bagi masyarakat yang terdampak bencana. Bagaimana masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah bisa pulih cepat pascagempa, salah satunya karena memiliki semangat hidup dan kemampuan memanfaatkan sekitarnya untuk bertahan hidup.

Salah satu tahap dalam pengurangan risiko bencana adalah bagaimana mengelola atau memodifikasi hazard (ancaman dan potensi bahaya). Ini adalah bagaimana mengubah bahaya yang ada agar menjadi tidak berbahaya.

Contoh, bahaya keruwetan lalu lintas dimodifikasi dengan rambu-rambu agar risiko kecelakaan berkurang. Kanal-kanal air dibuat untuk mengurangi risiko banjir. Contoh tersebut pernah dilakukan pada zaman Nabi Musa yang dengan mukjizat mampu membelah laut; dimodifikasi menjadi jalan tol. Nah, meskipun tidak secanggih mukjizat Nabi, kita punya potensi untuk memodifikasi bahaya di sekitar kita guna mengurangi risiko bencana.
 Beralih ke kisah Nabi Yusuf, selain ketampanannya, hal yang bisa kita pelajari adalah kemampuannya memprediksikan apa yang akan terjadi. Ketika itu, Nabi Yusuf memberitahukan kepada raja bahwa akan terjadi kemarau panjang.

Kita tentu juga tahu kisah Nabi Ayyub yang mengalami penderitaan bertubi-tubi; kebangkrutan, kematian anak-anaknya, kemudian sakit parah dan kronis. Kulitnya membusuk, bernanah dan bau yang membuat keluarga meninggalkannya.

Namun, ternyata Nabi Ayyub tetap mampu menerima keadaan dengan ikhlas hingga semua penderitaannya berakhir. Mukjizat Nabi Ayyub adalah absorbing capacity; kemampuan menerima beban, terus bertahan tanpa menjadi kolaps.

Kalau kapasitas Nabi Ayyub sudah pada level bertahan dalam kondisi "kerusakan", aplikasi absorbing capacity bisa pada level bertahan untuk tidak rusak. Misalnya, sebuah rumah dikatakan memiliki absorbing capacity yang baik terhadap gempa ketika mampu tetap kokoh meski diguncang gempa. Dalam dunia kebencanaan, absorbing capacity sangat penting. Makin tinggi nilainya, makin tangguhlah sebuah masyarakat.

Beralih ke kisah Nabi Yusuf, selain ketampanannya, hal yang bisa kita pelajari adalah kemampuannya memprediksikan apa yang akan terjadi. Ketika itu, Nabi Yusuf memberitahukan kepada raja bahwa akan terjadi kemarau panjang.

Bila tidak bertindak, kerajaan akan mengalami paceklik parah. Akhirnya, diputuskan melakukan efisiensi dan membuat lumbung cadangan. Dengan lumbung cadangan itu, kerajaan selamat dari paceklik meski kemarau panjang tetap terjadi.

Dalam manajemen bencana, hal ini disebut sebagai buffering capacity atau kapasitas cadangan. Artinya, meskipun terjadi kerusakan karena bencana, fungsi kehidupan masih berjalan. Sebagai contoh, meskipun rumah rusak karena gempa, masyarakat masih tetap bisa bertempat tinggal karena memiliki tenda cadangan, masih bisa makan karena punya lumbung cadangan.

Pada titik kritis sebuah insiden atau bencana, nyawa terancam, dibutuhkan kemampuan penyelamatan jiwa (life saving). Dalam hal itu, kita teringat mukjizat Nabi Isa yang mampu menyembuhkan penyakit, bahkan menghidupkan orang mati. Dalam bahasa sekarang, ini kemampuan treatment pasien yang puncaknya mengembalikan denyut jantung yang berhenti dengan teknik cardio-pulmonal rescucitation (CPR).

Di negara maju, masyarakat dilatih basic life support dan first aid atau pertolongan pertama. Ini menjadi kebijakan nasional. Dengan ini, masyarakat mampu memberi pertolongan dengan benar pada setiap kejadian darurat.

Kebijakan ini sangat penting dalam bencana. Dengan kemampuan menolong, masyarakat tidak lagi terlalu mengandalkan bantuan luar, bisa menolong secara mandiri pada batas tertentu. Ini adalah kapasitas penanganan bencana yang disebut life saving dan local response capacity.

Semua hal tersebut harus dilakukan secara masif dan sistemis agar semua komponen masyarakat menjadi tangguh bencana. Tentu, semua itu harus dilakukan bersama penataan dan pengelolaan masyarakat, social management.

Untuk hal ini, kita ingat bagaimana kehebatan Nabi Muhammad SAW dalam melakukannya. Beliau mampu menata masyarakat jahiliyah dan membangunnya menjadi masyarakat yang berketuhanan dan berkeadaban. Ini adalah mukjizat sosial luar biasa dan patut diambil pelajaran untuk menata bangsa ini menjadi tangguh bencana.

Pada Ramadhan yang penuh nuansa religi ini, sudah selayaknya kita menengok kembali khazanah kenabian yang sangat kaya hikmah. Salah satunya, bagaimana kita menjadikan bangsa ini menjadi tangguh bencana. Semoga, kita diberi Allah SWT kemampuan untuk mengambil hikmah dari para nabi ini.

 

 Ahmad Muttaqin Alim    
Koordinator Divisi Diklat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Alumnus European Master in Disaster Medicine. 
Dimuat oleh harian RepublikaKamis, 23 Juni 2016