SD Muh Sumbermanjing Kulon : Dari Sekolah Korban Menuju Siaga Bencana

 

Malang –  “Desa ini pernah banjir tahun 2007 dan 2010, rumah-rumah di sekitar sekolah ini terendam”  kisah Budi Mulyani, Kepada SD Muhammadiyah Sumbermanjing Kulon , Sabtu (5/1/2012). Menurutnya banjir terjadi karena luapan sungai yang membelah Sumbermanjing Kulon, ditambah saluran irigasi yang mengapit SD yang menjadi pilot project program Sekolah Siaga Bencana ,  bagian dari program Save Our School  kerjasama MDMC dan LAZISMU.

Budi  menerangkan bahwa harus diakui melubernya air dari sungai tersebut karena perubahan penggunaan lahan di bantaran sungai, termasuk di daerah hulu sungai. “Tapi kan kita tidak bisa menghindari itu, karena itu lahan penduduk. Seandainya ada penebangan pohon, itu hak mereka” terang Budi.

Bukannya tidak ada usaha untuk mengurangi potensi terjadinya banjir, namun menurut Budi, hingga saat ini belum cukup menggembirakan. “Pernah saya mintakan bibit jati ke Perhutani, saya sudah keluar biaya menyewa mobil, saya bagikan geratis, tapi ternyata tidak banyak yang mau menanamnya” kisahnya. “Menurut mereka , menanam jati itu lama. Mereka memilih menanam sengon yang lebih cepat bisa ditebang dan dijual” lanjutnya.

Banjir di tahun 2010 menurut Budi  cukup berdampak pada sekolah yang dia pimpin. Pasir yang siap untuk membangun sekolah waktu itu hanyut, buku – buku basah dan aktifitas belajar mengajar sempat berhenti.  “Bahkan waktu itu saya juga harus berjuang menyelamatkan kayu kayu yang hanyut , padahal kayu itu untuk pembangunan kelas baru” kisahnya.

Banjir tahun 2007 dan 2010 juga sempat mengganggu upaya Budi  bersama guru dan pengurus Muhammadiyah di Sumbermanjing Kulon dalam merintis sekolah. Padahal SD ini dirintis sejak tahun 2006, dengan murid yang dicari dengan mengunjungi warga dari rumah ke rumah. “Waktu itu para guru mendatangi rumah untuk menawari putranya menjadi siswa di SD kami. Saya dibantu istri saya yang juga bersama kami mengajar disini” kata Budi. “Akibat terendam banjir sempat dicemooh warga , sehingga menurunkan kepercayaan warga” lanjutnya.

Tahun 2013 ini adalah saat yang menggembirakan untuk Budi dan seluruh sekolah yang satu atap dengan SMP Muhammadiyah Pagak tersebut. Karena tahun ini adalah kali pertama buah perjuangannya akan menghasilkan lulusan pertamanya. “Terimakasih, semoga dengan ditunjuknya sekolah kami dalam program sekolah siaga bencana bisa menyemangati kami sekaligus  membangun kesadaran warga bahwa menjaga lingkungan itu penting agar terhindar dari bencana” katanya kepada tim dari MDMC dan MDMC Jawa Timur yang mengunjungi  sekolah, sabtu (5/1/2013).

Sekolah yang berada 45 KM dari Kota Malang tersebut diharapkan madi pelopor kesiapsiagaan warga berbasis sekolah di Kab. Malang, bahkan di Malang Raya. - Arif

Foto atas : Budi Mulyani, Kepada SD Muhammadiyah Sumbermanjing Kulon

Foto bawah : Sungai yang meluap merendam Sumbermanjing Kulon tahun 2010 (Dok. SD Muh Sumbermanjing)

Indeks Berita