Penanggulangan Bencana Garda Depan Semangat Al Maun

 

Surabaya – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni  menegaskan salah satu peran strategis keberadaan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) adalah menjadi garda depan implementasi  semangat dari Al Qur'an surat Al Maun yang menjadi landasan  Muhammadiyah dalam membantu sesama manusia. “LPB menjadi lembaga yang berada di garda  depan dari semangat Al Maun, ini menjadi beban yang harus dipikul” terang Syafiq dalam pembukaan Workshop Tindak Lanjut Respon Erupsi Gunung Rokatenda di Kantor PWM Jawa Timur, ahad (3/3/2012).

“Kalau akhir akhir ini Muhammadiyah dikritik menjadi kapitalis karena sekolah mahal, rumah sakit mahal, ini harus dijawab dengan bukti yang riil bahwa kita memberikan porsi yang cukup besar pada masyarakat miskin atau masyarakat korban bencana, ini yang disangga benar-benar oleh LPB” lanjut Syafiq dihadapan peserta Workshop.

Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah atau yang disebut dalam bahasa Inggris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) berdiri sebagai implementasi Muktamar Muhammadiyah 2010. LPB mengkoordinasikan potensi lintas Majelis, Lembaga, Organisasi Otonom dan Amal Usaha yang dikembangkan Muhammadiyah selamat lebih dari 100 tahun ini.

“LPB ini awalnya menyangga beban yang cukup berat, karena menjadi lembaga baru di Muhammadiyah. Karena ini adalah lembaga tersendiri yang ada pada periode ini, maka tentu banyak sekali mekanisme dan cara berfikir aktifis Muhammadiyah harus menyesuaikan diri “ terang Syafiq. “Tapi dengan proses cukup bagus, sekarang kita bisa  memahami eksistensi dan peran, sehingga tidak ada yang menghambat pelaksanaan program LPB” kata Syafiq.

Apresiasi Relawan
Dalam kesempatan ini, Syafiq yang didampingi Dr Sukadiono, wakil ketua PWM Jawa Timur, membuka acara workshop serta menyerahkan sertifikat kepada lima orang relawan dari Muhammadiyah Jawa Timur yang dikirim oleh LPB untuk membantu pemeriksaan kesehatan warga di Pulau Palue, Kab. Sikka, NTT, lokasi dimana Gunung Rokatenda berada.

Syafiq juga memberi pengarahan untuk bagaimana agar dikembangkan ruang lingkup relawan selain di lingkungan rumah sakit dan menjaga semangat relawan . “Perlu dikembangkan keterlibatan mapala dan mahasiswa lain di kampus perguruan tinggi Muhammadiyah” tegas Syafiq.

Menurut Syafiq, selama ini relawan Muhammadiyah telah bekerja luar biasa,walaupun kerja keras masih terus dituntut . “Saya selama ini melihat sudah sungguh sungguh bekerja, saya tidak bisa membayangkan bila tidak didikung oleh LPB PWM atau PDM, juga relawan dari Rumah Sakit dan Perguruan Tinggi dalam pelaksanaan tugas penanggulangan bencana” terangnya. “Saya sulit membayangkan bagaimana relawan bisa  tidur tidak teratur, makan seadanya, bagaimana bertahan dengan peralatan yang ada , untuk bersungguh sungguh melaksanakan tugas ini, kami apresiasi sebesar besarnya.” lanjutnya.

Selain itu, Syafiq yang juga mantan ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur periode 2005 – 2010 berpesan bahwa Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana  membuka diri kesempatan bekerjasama dengan lembaga penanggulangan bencana berbasis organisasi agama lain, seperti yang tergabung dalam Humanitarian Forum Indonesia. “Kalau tujuannya untuk menolong manusia, bekerjasama dengan agama apapun masih mendapat pahala yang besar” lanjutnya. (arif).

Indeks Berita