Gerakkan Sumberdaya Raksasa, Mekanisme Tanggap Darurat Muhammadiyah Diperbarui

 

Yogyakarta – Sebagai sebuah jaringan raksasa yang membawahi sumberdaya relawan dan logistik di  34 Provinsi, 429 Kabupaten, 3.366 Kecamatan, dan sumberdaya organik di   36 Universitas, 72 Sekolah Tinggi, 54 Akademi, dan 30 buah Rumah Sakit Umum, 13 RS Bersalin dan puluhan klinik,  Muhammadiyah membutuhkan perangkat yang kuat dalam menggerakkan sumberdayanya bila harus terjadi kejadian bencana. Salah satu tugas dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) adalah memastikan perangkat itu bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan standar layanan kemanusiaan.

“Dua hari ini pembahasan mekanisme tanggap darurat sudah selesai, Divisi Tanggap Darurat dan Rehabilisasi Rekonstruksi sedang merapikannya, segera diplenokan dan akan disampaikan pada Rakernas MDMC mendatang” jelas Sarniyah, Koordinator Divisi Tanggap Darurat dan Rehabilisasi Rekonstruksi di University Hotel Yogyakarta, ahad (13/03).

Proses pembahasan perangkat tanggap darurat ini dimulai dengan diskusi internal divisi yang membahas perangkat lama yang sudah ada, kemudian dibawa dalam workshop MDMC yang ditujukan untuk semua personil pengurus di tingkat pusat. Dalam workshop sempat disampaikan pengantar workshop yang disampaikan oleh  Wakil Ketua I MDMC Rahmawati Husein PhD, dan juga Dr Ustadi Hamzah dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah yang khusus menyampaikan mengenai Fikih Kebencanaan, khususnya pada masalah kewajiban mempersiapkan kompetensi yang terukur dalam menjalankan amal shalih, termasuk penanggulangan bencana. Turut mendapingi proses workshop, Wakil Ketua II MDMC, Arif Jamali Muis, MPd.

Amal Shaleh 

Sementara itu, pada penutupan workshop, Ketua MDMC H. Budi Setiawan menyampaikan bahwa pada hakekatnya ajaran agama agar kita menjadi sosok insan paripurna yang beriman dan beramal shaleh itu seperti yang diupayakan dengan merapikan mekanisme tanggap darurat ini. Menurut Budi Setiawan, amal shaleh yang dimaksud adalah sebuah amal yang profesional, dijalankan bersungguh – sungguh dengan kesempurnaan yang ukurannya obyektif sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia. “Amal shaleh itu bisa menggunakan standar SPHERE PROJECT misalnya, ketika kita memberikan bantuan kemanusiaan” katanya merujuk pada Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum Bantuan Kemanusiaan yang menjadi salah satu rujukan dalam workshop.

Proses workshop ini difasilitasi oleh 5 orang personil pimpinan MDMC yang telah dilatih dalam proses Training for Fasilitator dalam program Preparing To Exel In Emergency Respon yang digagas bersama PKPU dan Chatolic Relief Service  untuk meningkatkan kualitas tanggap darurat di Indonesia, khususnya yang dilakukan organisasi berbasis keagamaan.

Indeks Berita