MDMC dan UMY Gelar Talkshow “Jogja Bangkit” 26 Mei 2016 di TVRI

Yogyakarta – Gempa Bumi bagi masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya tidak saja menyisakan kenangan pahit dengan jatuhnya korban  jiwa dan harta benda, namun juga menjadi bukti ketangguhan warga bangkit pasca bencana dengan relatif cepat.

“Kami ingin ini menjadi teladan kebangkitan sekaligus membangun pemahaman warga bahwa potensi gempa bumi akan terus ada di jogja dan sekitarnya” kata Budi Santoso, KoDiv PRBK Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), jum’at (13/05).

Budi menjelaskan, MDMC merencanakan acara Refleksi Peringatan Gempa Bumi 2006 dalam beberapa rangkaian kegiatan yang salah satunya berupa Talk Show “Live” di TVRI Yogyakarta pada tanggal 26 Mei 2016 pada  pukul 18.00 – 19.00 WIB.

Talk Show ini mengambil tema “ Membangun Jogja Tangguh Melalui Partisipasi Masyarakat” dengan menghadirkan Ir Gatot Saptadi yang merupakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  DIY, Bapak Budi Setiawan, ST (Ketua MDMC) dan Dr Jazaul Ikhsan (Ahli Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Univ Muhammadiyah Yogyakarta).

“Acara ini kami harapkan bisa menjangkau warga Jogja dan sekitarnya, tidak saja menjadi momentum peringatan saja, namun juga memberi ruang pembelajaran untuk membangun Jogja Tangguh Bencana” papar Budi.

Pelaksanaan acara ini secara keseluruhan dilakukan bersama dengan MDMC DI Yogyakarta dan didukung penuh oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Kisah Sukses Kebangkitan

Muhammadiyah di DI Yogyakarta dan Kab Klaten – Jateng pasca gempa bumi 2006 mencatat keberhasilan membangu kembali berbagai amal usaha yang harus runtuh. Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mencatat kebutuhan minimal pasca gempa bumi untuk membangun kembali sekolah saja bisa mencapai 249 Milyar Rupiah lebih dengan perhitungan satu lokal kelas berukuran 45 meter pesegi membutuhkan dana 1 juta 800 ribu rupiah.

“Bila dengan ukuran sekarang yang satu meter persegi bisa  2 Juta 500 ribu rupiah, setara dengan 420 Milyar Rupiah lebih” terang Arif Nur Kholis,  Sekretaris MDMC yang pada tahun 2006 menjadi Area Manager Posko Muhammadiyah.

Tercatat dalam data Majelis Diktilitbang tersebut, kebutuhan untuk rehabilitasi kantor organisasi lebih dari 19 Milyar Rupiah, untuk membangun kembali Pesantren membutuhkan 12 Milyar Rupiah Lebih, membangun kembali Panti Asuhan minimal butuh 7 Milyar Rupiah lebih, membangun Masjid dan Mushola butuh 60  Milyar Rupiah lebih, dan memperbaiki kerusakan pada amal usaha kesehatan membutuhkan 14 Milyar Rupiah lebih.

“Bahkan banyak amal usaha yang berdiri lebih megah pasca gempa, kita bisa lihat Madrasah Muallimin atau Panti Asuhan Putra Lowano” papar Arif.

Menurut Arif,  kemampuan warga Muhammadiyah Yogyakarta dan Klaten bangkit dari gempa ini tampak nyata dan istimewa. “Bayangkan, tahun 2010 warga Muhammadiyah Yogyakarta bisa menjadi pendukung utama Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang sedemikian besar, setelah menanggung beban membangkitkan amal usaha mereka pasca gempa bumi. Ini sangai istimewa untuk organisasi kemasyarakatan, hanya membutuhkan tidak lebih dari empat tahun” pungkas arif. 

Indeks Berita