Usai Ditempa di HPCRED, RSM Lamongan Kuatkan Internal

Lamongan – Komitmen Muhammadiyah mempelopori penguatan kesiapsiagaan Rumah Sakit menghadapi bencana tidak hanya sebatas berhentinya kerjasama dengan donor, demikian yang terjadi di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML).

Sebagai RS yang berkomitmen untuk siaga bencana, RSML mendapat manfaat yang besar dengan diterjunkannya dokter dan perawatnya sebagai fasilitator dan pengelola program Hospital Preparednes and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED) yang berakhir awal 2016 ini. Program kerjasama dengan pemerintah Australia dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menempa mereka dari penguatan pemahaman materi, teknik fasilitasi, manajemen program hingga pelaksanaan simulasi dengan pendekatan baru.

Bertempat di Aula RSML, para fasilitator itu kali ini mendampingi koleganya sendiri di lingkungan RSML.  Hadir 40 orang peserta yang  terdiri dari para pejabat struktural RS untuk berlatih mengenai Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit (RPBRS). Ikut juga dalam pelatihan tersebut lurah dari dua kelurahan di sekitar RS, perwakilan Polres, Kodim, Dinkes dan RSUD Lamongan.

“Kami menekankan peran komunitas dan pemangku kepentingan di sekitar RS dalam pelatihan ini” ungkap dr Zuhdiyah Nihayati, Ketua Panitia Pelatihan. Pelatihan yang menggunakan konsep In House Training ini dimulai pada 23 April 2016 dan dilanjutkan pada tanggal 2-3 April 2016. “Alhamdulillah peserta awet sampai selesai” tambahnya.

Menurut dr Zee, begitu dokter ini biasa dipanggil, kegiatan ini berlatar belakang dari keinginan untuk meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan di RSML dalam menyusun RPBRS karena memang sebagian besar pejabat struktural RS orang baru, tentu dengan referensi modul yang ikut mereka susun dalam program HPCRED. RSML sendiri pada program HPCRED tidak menjadi target pelatihan RPBRS, karena setelah mengikuti program sejenis pada tahun 2009 – 2011 mereka diminta diupgrade menjadi fasilitator.

“Walaupun kami pernah mendapatkan program yang sama, menurut saya program HPCRED telah meningkatkan pemahaman kami mengenai konsep Safe Hospital dengan lebih komprehensif” terang dr Zee. “Pelatihan ini tepat momentumnya, kebetulan manajemen RS juga mengagendakan perbaikan dokumen RPBRS yang  disusun pada tahun 2009 dan terakhir di perbaiki pada tahun 2011” tambahnya.

Terus Menempa Fasilitator

Selama 2009 – 2011, RSML bersama 3 RS Muhammadiyah lain menjalankan program yang disebut Hospital and Community Preparedness for Disasater Management (HCPDM) yang menghasilkan adanya dokumen RPBRS (atau waktu itu lebih dikenal sebagai Hospital Disaster Plan), Komite Kesehatan Bencana ( dikenal sebagai Disaster Medic Commitee) hingga melakukan simulasi serta memiliki tim deploy medis yang handal.

Keterlibatan mereka pada program HPCRED yang digawangi oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) telah meningkatkan mereka satu tahap tidak sekedar sebagai penerima program, namun menjadi fasilitator dan pendamping RS lain, karena memang program HPCRED menerapkan konsep “Peer Hospital”, yaitu sebuah RS didampingi oleh RS lain yang telah melalui tahap TOT seperti RSML.

“Memfasilitasi teman sendiri tidak mudah ternyata, kadang rasa sungkan masih datang dibanding ketika kami mendampingi RS lain di program HPCRED” kisah dr Zee. “Jadilah kami harus mengupayakan berbagai trik baru agar target pelatihan tercapai. Itulah tantangannya” lanjutnya. 

Sementara itu, sebagai bagian dari penugasan dari MDMC dan komitmen untuk terus menjadi pioner penguatan kesiapsiagaan bencana di RS, fasilitator RSML akan mendampingi pelatihan RPBRS di RSUD Wlingi Kabupaten Blitar tanggal 16 - 18 Mei 2016.  Melalui koordinasi di MDMC tentu siap untuk membantu RS lain yang membutuhkan pendampingan.

Keterangan Foto :  Fasilitator dari RSML pada review modul pelatihan HPCRED bersama Direktur dan Technical Board dari PKK Kemenkes dan MDMC, Desember 2015. 

 

Indeks Berita