Kali Ini Muhammadiyah Kembangkan “Comprehensive Safe Hospitals”

 

Jakarta – Satu abad lamanya Muhammadiyah mempelopori pengembangan Rumah Sakit oleh bumiputera sendiri, dengan lembawa yang pada awalnya bernama Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), sejak tahun 2009 komitmen itu berkembang dengan mengusahakan RS yang siaga menghadapi bencana.

“Semangat PKO ini terus kami hidupkan, sebagai komitmen untuk memberikan layanan yang terbaik, inklusif, tidak membeda-bedakan” terang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y Tohari pada peluncuran program Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency Disaster (HPCRED) fase kedua, 2016-2018.  

Program yang diluncurkan pada selasa (7/06) ini merupakan upaya penerapan konsep “Comprehensive safe Hospitals” berdasarkan pembelajaran rangkaian upaya sebelumnya dan juga konsepsi yang berlaku secara internasional dalam upaya pengurangan risiko bencana. “Kali ini kami menerapkan di Kota Bima dan Kota Palangkaraya” jelas dr Ahmad Muttaqin Alim. SpAn, Program Manager HPCRED dalam acara peluncuran tersebut.

Lebih lanjut dokter alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menyampaikan bahwa konsep Comprehensive Safe Hospital ini merujuk pengalaman Muhammadiyah yang telah mengembangkan program Hospital and Community Preparedness for Disaster Management (HCPDM) di Palembang, Jakarta Timur, Bantul dan Lamongan, serta program HPCRED fase pertama pada tahun 2015 di Makassar, Malang, Gresik dengan RS Muhammadiyah Lamongan sebagai fasilitator.

“Bersamaan dengan upaya kami tersebut, pada tahun 2015 WHO mengembangkan konsep Comprehensive Safe Hospital yang mirip dengan program yang pernah kami kembangkan, sehingga dengan penyempurnaan di beberapa bagian kami akan terapkan pada program kali ini” lanjut dr Alim.

Secara umum, konsep Comprehensive Safe Hospital adalah penerapan konsep Pengurangan Risiko Bencana di RS secara menyeluruh, sehingga RS dipastikan menerapkan prinsip-prinsip manajemen bencana, pengembangan manajemen kedaruratan, penguatan ketangguhan masyarakat sekitar RS dan integrasi sistem kebencanaan RS dalam sistem kebencanaan kota/kabupaten sebagai bagian dari implementasi konsep City Resilient.\

“Upaya ini sesuai dengan strategi penanggulangan bencana di Indonesia saat ini, yaitu penurunan indeks risiko di titik – titik pertumbuhan. Kali ini kami coba menyumbang penurunan indeks risiko dari sisi kesehatan” lanjut dr Alim.

Dukungan Multipihak

Pada peluncuran program di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah di jl menteng raya no 62 Jakarta Pusat tersebut, dukungan dari multipihak didapatkan Muhammadiyah. Hadir secara khusus memberikan pernyataan dukungannya dr Indro Murwoko dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kemenkes, Eni Supartini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dr Natsir Nugroho SpOG dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan dari Komite Akreditasi Rumah Sakit. Dukungan penuh juga didapatkan dari Pemerintah Australian melalui Departement of Foreign Affair  and Trade (DFAT) sebagai penyandang dana.

Dukungan dari Internal Muhammadiyah juga masif didapatkan, yaitu dari Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) dan Majelis Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan (Diktilitbang). “MPKU merupakan majelis yang mengemban mandat untuk mengembangkan keberadaan Rumas Sakit Muhammadiyah yang kali ini berjumlah 105 buah, sementara Diktilitbang adalah lembaga yang membawahi sepuluh Fakultas Kedonteran PTM beserta puluhan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Program ini harus menjadi bagian pembelajaran bersama kami” terang Rahmawati Husein, PhD, wakil ketua MDMC yang juga sebagai National Program Coordinator HPCRED. 

Indeks Berita