Setiap Orang Bisa Belajar Penanganan Bencana

Yogyakarta – Banyaknya orang yang lebih pandai dalam kebencanaan, memungkinkan setiap orang untuk terus belajar. Apalagi negara ini adalah laboratoriumnya bencana, hal ini pun tidak menutup kemungkinan untuk terus berusaha menciptakan sistem baru dalam kebencanaan, agar tercipta sebuah kearifan lokal yang mampu menolong kita sendiri.

Demikian pernyataan Indra Prasetyantoro selaku fasilitator kegiatan evakuasi dari DMC PKU Muhammadiyah Bantul dalam rangkaian acara 3rd International Emergency Nursing Camp, yang diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu (6-7/8) dan bertempat di Camping Ground Candi Prambanan.

 
Menurut Indra, setiap orang bisa belajar bagaimana cara menangani bencana. Terlebih lagi bagi seorang perawat. Seorang perawat, khususnya bagi dia yang terlibat dalam kebencanaan dituntut untuk memiliki beberapa kompetensi seperti critical thinking yang mumpuni, serta memiliki gerak cepat, sehingga seorang perawat mampu memberikan pelayanan serta memberikan keputusan yang efisien dalam melakukan penanganan pertama sampai evakuasi kebencanaan. Indra juga berujar bahwa seringkali pada saat di lapangan, seorang penolong kerap kali menemukan kendala, seperti keterbatasan alat (tools crisis), atau bahkan human error.

    “Kendala tersebut bukanlah halangan, maka disini kami mengajarkan beberapa teknik dimana tatkala seorang penolong menghadapi kendala seperti keterbatasan alat, maka seorang penolong dituntut untuk menggunakan alat yang ada disekitar lokasi atau bahkan menempel di tubuh seorang penolong atau penyintas bencana," ujarnya.

Indra kembali mengatakan bahwa pada dasarnya proses evakuasi merupakan sebuah sistem dimana seorang penolong memindahkan korban dari area berbahaya ke area yang lebih aman serta dilakukan secara sistematis dan bertahap, “Proses evakuasi dilakukan secara sistematis dan bertahap, diantaranya; rescue process oleh Rescue Team (BASARNAS), setelah itu petugas keamanan berkoordinasi dan menyatakan wilayah tersebut aman, setelah aman maka tim evakuasi akan turun untuk melakukan evakuasi”. 

 
 “Dalam melakukan pertolongan pada penyintas bencana, prinsip 3 aman perlu diperhatikan; aman bagi kita sebagai penolong, aman terhadap lingkungan yang kita masuki dan aman terhadap korban yang akan kita bantu. Karena pada dasarnya seorang petugas itu jangan sampai membahayakan dirinya, apalagi membahayakan diri penyintas bencana,” ujar Indra lagi.

Indra pun berharap dengan peningkatan kompetensi perawat dalam balutan kegiatan International Emergency Nursing Camp ini, menggugah rasa kepedulian mahasiswa – mahasiswi keperawatan serta perawat dalam kebencanaan. Ia menambahkan, “Pada dasarnya, bencana dapat terjadi kapan pun dimana pun. Kuncinya ialah bagaimana cara kita untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan dengan kepemilikan kompetensi dasar oleh perawat, serta dapat mengajarkannya serta membantu masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab profesinya dan kemanusiaannya,” harap Indra.

    Mengamini pendapat dari Indra Prasetyantoro, ditemui pada kesempatan yang berbeda Muhammad Asnawi selaku fasilitator bidai dan balut dari RSUD PKU Kota Yogyakarta mengatakan bahwa memang saat terjadi kejadian bencana, terkadang alat – alat yang representatif itu belum tentu tersedia. “Bagi seorang penolong, tatkala alat yang representatif dalam penanangan penyintas bencanana tidak tersedia, maka seorang penolong ditekankan untuk menggunakan benda apapun sebagai subsider dari alat yang tidak ada. Maka perlu bagi perawat memiliki critical thinking mumpuni untuk memodifikasi alat yang berada di sekitar tempat kejadian bencana,” ungkapnya.

    Sementara Eri Yanuar Akhmad selaku fasilitator dari BPBD DIY menambahkan bahwasanya memang terkadang kendala lain dapat muncul tatkala kejadian bencana, kerap kali aktivasi respon dalam kegawatdaruratan (acivate emergency response) berbeda di setiap daerah, kadangkala cepat, namun acapkali lambat. Lambatnya aktivasi tersebut terkadang disebabkan oleh belum tersedianya AER yang mumpuni di suatu daerah. “Untuk daerah Yogyakarta sendiri alhamdulillah AER System sudah mumpuni”, ucap Eri.

Dibutuhkannya Kompetensi Perawat dalam Kebencanaan

Eri juga mengatakan jika kompetensi perawat dalam kebencanaan sangat dibutuhkan. “Timbulnya kepercayaan diri dan tanggung jawab dalam respon bencana, ialah buah dari kompetensi mumpuni yang dimiliki seorang perawat,” ucap Eri dalam wawancaranya bersama media MDMC.

“Bagi seorang perawat, selain critical thinking yang baik tatkala kejadian bencana, diperlukan pula kompetensi idetifikasi awal pada bahaya (first identification on hazard)”, imbuh Eri. Ia juga menyebutkan, hal tersebut bertujuan agar tatkala terjadi sebuah bencana, seorang perawat ataupun penolong sudah siap untuk perencanaan tanggap bencana.

    Sementara itu, Muhammad Asnawi mengatakan, bagi seorang penolong sangat perlu kompetensi dalam bidang komunikasi dan koordinasi, utamanya tatkala terjadi bencana. “Sebagai makhluk sosial, memang kita tidaklah dapat melakukan segalanya dengan sendiri saat bencana. Komunikasi dan koordinasi antara responder kebencanaan menjadi penting adaya, hal tersebut dapat mempercepat serta mempermudah respon yang dilakukan oleh tim saat kebencanaan,” jelasnya.

    Selain kompetensi yang telah dipaparkan di atas, seorang perawat dalam tanggap bencana perlu juga mengetahui dasar - dasar improve midicine, dr. Ahmad Mutaqim Alim, EMDM selaku fasilitator dari Muhammadiyah Disaster Management Center menyebutkan dalam presentasinya, bahwa improve medicine merupakan sebuah ilmu kedokteran yang digunakan dalam kebencanaan ataupun keadaan darurat dengan mengandalkan peralatan yang seadanya.

   Di sisi lain, Anisa Ratnasari selaku koordinator acara menyebutkan bahwasanya hari kedua dan ketiga merupakan praktik dan simulasi respon perawat dalam kebencanaan serta aplikasi teori yang telah didapatkan peserta 3rd IENC dari seminar pada hari pertama. “Hari kedua ini, kami mengadakan pelatihan atau praktik yang terdiri dari basic life support in pre hospital, bidai dan balut, praktik evakuasi korban, improve medicine oleh dr. Ahmad Muttaqin Alim, EMDM, serta pembekalan simulasi oleh dr. Corona Rintawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center,” ujarnya.
Kemudian pada hari ketiganya, dilaksanakan simulasi besar pada kejadian bencana serta vertical rescue yang  diampu oleh SAR DIY.
 
Reporter :Fauzi , Editor : Sakinatudh Dhuhuriyah

Indeks Berita