Hari Kemanusiaan : Konflik 65 di Kantong Muhammadiyah Terhindar Pertumpahan Darah

Yogyakarta  - Pada sekitar tahun 1965, Indonesia mengalami konflik yang menghadap – hadapkan umat Islam dengan para pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Konflik itu bahkan harus menumpahkan darah di berbagai tempat, namun di kantong – kantong Muhammadiyah pertumpahan darah bisa dihindari.  dim Dr Siti Syamsiyatun menyatakan dalam acara Diskusi Publik peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia di Yogyakarta, Sabtu (27/08).

Menurut salah satu tokoh Intelektual Muhammadiyah yang saat ini menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP Aisyiyah,  dalam konflik yang meluas tersebut selalu ada solusi untuk penyelesaian damai, walaupun Muhammadiyah jelas ada perbedaan ideologi yang tajam dengan PKI. “ Ini bentuk komitmen Muhammadiyah  yang meyakini bahwa walaupun ada perbedaan – perbedaan, tetaplah sesama manusia” papar Siti Syamsiatun pada acara di Kantor PP Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro tersebut.

Menurut sosok yang juga Direktur ICRS Universitas Gadjah Mada tersebut, sejak didirikannya Muhammadiyah memang diniatkan untuk mengubah kondisi keberagamaan umat Islam dari yang hanya sekedar pengetahuan keagamaan yang bersifat kognitif, menjadi ajaran agama yang masuk dalam hati dan juga mewujud dalam perilaku.

Salah satu etos Muhammadiyah yang saat ini jelas masih berjalan dan terus berkembang menurutnya adalah amal usaha pendidikan dan kesehatan yang ditujukan untuk semua kalangan. “Di daerah NTT sekolah Muhammadiyah bisa sampai 70 persen siswa kristennya, juga di tempat lain seperti Sorong” paparnya.  

Siti Syamsiatun mengingatkan bahwa langkah – langkah Muhammadiyah ini merupakan praktek – praktek yang sesuai dengan tema peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia untuk meahun 2016 yang mastikan tidak ada satupun pihak yang tertinggal dalam upaya pertolongan kemanusiaan. “Muhammadiyah tentu sangat terbuka, dan telah menunjukkan keterbukaan itu, mari kita terus bekerjasma. Memuliakan manusia dan memuliakan ciptaan Tuhan” katanya.

Diskusi ini digagas oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Yakkum Emergency Unit (YEU), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBI NU) bersama Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan Kantor Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) Jakarta. Menghadirkan juga pembicara dari pemuka agama Budha, Hindu, Kristen, Katolik dan juga lembaga – lembaga kemanusiaan berbasis agama.  

Indeks Berita