Arsitek Harus Rancang RS yang Aman Bencana

Yogyakarta – Ketika bekerja dalam respons kebencanaan, tentu kami para tenaga medis sangat membutuhkan fasilitas penunjang dengan desain ataupun rancangan dari sebuah bangunan  yang aman saat bencana, sampai saat ini hal tersebut belum ada di Indonesia.

Demikian ucapan dr. Ahmad Mutaqqin Alim, Sp. An, EMDM selaku koordinator divisi diklat Muhammadiyah Disaster Management Center dalam talkshow “Kampanye kampus tangguh bencana”, bertempat di Ruang Studio Arsitektur Universitas Gadjah Mada (16/9).

dr. Alim yang juga seorang dokter di salah satu Rumah Sakit PKU Bantul melanjutkan bahwa bagi seorang arsitek tentu harus memiliki kemampuan untuk dapat melakukan assesment pada kebencanaan. Terangnya ia menjelaskan, seorang arsitek harus mampu mengukur serta menentukan bangunan sebelum dibuat, baik itu rancangan ataupun ketahanannya terhadap bencana semisal gempa.

“Pekerjaan seorang arsitek itu mayoritas pembuatan desain ataupun perancangan yang dilakukan pre-event (sebelum kejadian bencana), ataupun post-event (setelah kejadian bencana). Saya mencontohkan pembuatan rumah bambu, ataupun rumah teletubies yang dibuat sebelum dan sesudah terjadinya bencana”,  tambahnya.

Dalam talkshow tersebut dr. Alim menjelaskan pula mengenai anatomy of disaster (anatomi kebencanaan) serta bagaimana pencegahannya. Dirinya menyebutkan bahwasanya secara mendasar terdapat tiga kata kunci sebuah kejadian dapat disebut sebagai bencana. Pertama; apakah kejadian tersebut menyebabkan gangguan atas suatu fungsi (change in function); Kedua, apakah kejadian tersebut menimbulkan kerugian (making a damage); Ketiga, apakah kejadian tersebut melebihi kapasitas lokal untuk menanganinya (loss in local responses capacity).

“Tentunya terdapat cara untuk mencegah suatu bencana, cara tersebut ditempuh melalui resiliensi atau penguatan kapasitas dalam kebencaan dengan cara memodifikasi sebuah bahaya (hazard modification), pengurangan dampak bencana dengan menguatkan kapasitas tempat tersebut (absorbing capacity), kemampuan untuk bertahan dalam bencana (buffering capacity), kemampuan komunitas untuk menangani bencana (local responses capacity)”, imbuhnya.

Sebagai akhir dari pembicaraannya dr. Alim berpesan kepada para arsitek untuk memegang prinsip build back better. Dalam artian tatkala terjadi sebuah kejadian ataupun bahkan bencana, seorang arsitek harus mampu membangun, mengembalikan dengan baik dari sebelumnya._Fauzi

Indeks Berita