MDMC Siapkan Rumah Sakit Siaga Bencana

Yogyakarta- Bencana erupsi Merapi yang melanda DIY dan Jateng dan bencana lain yang terjadi sebelumnya memberi pelajaran bahwa masyarakat harus siap menghadapi bencana setiap saat. Kesiapan ini harus didukung oleh semua unsur baik struktur dalam komunitas masyarakat maupun para petugas penyokong kehidupan, dalam hal ini penyelenggara fasilitas kemasyarakatan termasuk rumah sakit dan tenaga kesehatan.

Untuk itu, Muhammadiyah Disaster Management Center (Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah) menyelenggarakan Core Disaster Management Response yang didalamnya memuat materi pelatihan respon bencana oleh tenaga medis, yang merupakan bentuk tanggung jawab rumah sakit Muhammadiyah dalam persiapan menghadapi bencana. Hal tersebut diungkapkan dr. Ahmad Muttaqin Alim EMDM devisi tanggap darurat Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah, yang ditemui di sela acara yang bertempat di Hotel Ruba Graha, Krapyak, Sabtu (09/04/2011). Menurut Alim, bencana merapi yang mempunyai siklus empat tahunan membuat kesiapsiagaan baik dari unsur masyarakat maupun institusi kesehatan menjadi hal yang mutlak, untuk itu bekal pengetahuan dan manejemen bencana harus menjadi bekal. “Rumah sakit jelas memegang peran penting dalam manejemen bencana, karena mempunyai aktifitas dan pelanan dalam mengurangi resiko jatunya korban,” jelasnya.

Dalam pelatihan CDMR yang diselenggarakan baru pertama kali oleh MDMC ini menurut Alim, akan menjadi model awal untuk dilaksanakannya hal yang sama di rumah sakit rumah sakit Muhammadiyah yang berada di daerah rawan bencana. “Pada pelaksanaan kali ini kami melatih 6 rumah sakit Muhammadiyah di sekitar lereng Merapi, sebagai bentuk respon dalam menghadapi bencana Merapi yang bisa datang sewaktu-waktu,” tegasnya. Mengenai materi yang disampaikan menurut Alim, merupakan materi-materi yang menjadi standar Internasional dalam manejemen bencana rumah sakit, “Materi – materi yang ada, mulai dari pembelajaran pola bencana erupsi merapi, manajemen korban bencana, sampai pola-pola komunikasi dalam situasi bencana. Untuk pemateri diambil dari pakar Medis Bencana dari UGM, hingga kepala rumah sakit Sanglah Bali yang merupakan standar rumah sakit siaga bencana pertama di Indonesia, dan berpengalaman dalam bencana bom Bali satu dan dua,” terangnya.

Indeks Berita