MDMC Fokus pada Program Kesehatan di Myanmar

(Pertemuan dengan Dinas Kesehatan di Rakhine)

 

Myanmar (6/5). Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebagai salah satu anggota Indonesia Humanitarian Alliance for Myanmar (IHAM) mendapatkan peran untuk asesmen program kesehatan di Rakhine. Sedangkan anggota IHAM lainnya medapat bagian untuk asesmen program pendidikan. Pembagian tim IHAM didapatkan setelah pertemuan dengan Pemerintah Rakhine (5/5).

 

Pemerintah Rakhine menyepakati dengan tiga program asesmen The Humanitarian Assistance for Sustainable Community (HASCO) dengan menyerahkan sepenuhnya asesmen program pendidikan dan program kesehatan kepada tim IHAM melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan. “Pemerintah setuju dengan tiga fokus program kesehatan, pendidikan, dan livelihood. Untuk pendidikan dan kesehatan terserah dari kita,” kata Al-Afik perwakilan MDMC PP Muhammadiyah.

 

Setelah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Rakhine, tim asesmen kemudian berkunjung ke camp (area pengungsian untuk terdampak paska konflik). Pada kesempatan visit camp (6/05) di Thet Kay Pyin Sittwe, tim melakukan survei ditemani Dinas Kesehatan setempat. Al-Afik menambahkan bahwa di camp tersebut hanya terdapat satu dokter dan satu perawat serta minimnya peralatan kesehatan dan obat. “Apalagi saat weekend hanya ada satu yang buka, kemudian apabila butuh rujukan ke Rumah Sakit sangat susah dengan kendala akses dan tidak ada sarana ambulance,” kata Al Afik.

 

(Kondisi Terdampak di Camp)

Dr Thiha Aung selaku Deputy Director State Public Health Department May Yu Road, Sittwe, Rakhine menyarankan agar tim kajian program kesehatan  fokus pada nutrition dan mobile team di tiga distrik yang ada di Rakhine yakni Sittwe, Mangdau, dan Mrauk. Pasalnya, saat ini di Rakhine hanya terdapat 38 mobile team untuk 239 tempat. Contohnya di distrik Sittwe hanya terdapat empat mobile team.

 

Kendala yang dihadapi tim asesmen program kesehatan di cam muslim membutuhkan dokter dan perawat perempuan untuk menangani terdampak perempuan, akses jalan menuju Camp terbatas, dan program Keluarga Berencana (KB) belum berhasil terlaksana.(Sulis)

Arif Jamali

MDMC Indonesia

Indeks Berita