Muhammadiyah Berdayakan Generasi Milenial dalam Mitigasi Bencana

Bincang-Bincang Bencana dalam acara Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII 2018 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

MUHAMMADIYAH.ID,BANTUL – Berdayakan generasi milenial dalam mitigasi bencana, Muhammadiyah Disaster ManagementCenter (MDMC) diminta untuk menularkan virus kepedulian bencana di salah satu sesi acara Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang ke XVII, pada Senin (26/11) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Mengejahwantakan tema Milad Muhammadiyah yang ke 106 M, Ta’awun untuk Negeri, MDMC melalui gerakan tanggap bencananya sebagai aksi nyata dari tema tersebut. Gerakan kepedulian tersebut semakin menunjukkan gairahnya ketika relawan yang terjun di dalamnya adalah para kaum milenial. Seperti yang disampaikan oleh Budi Setiawan, Ketua MDMCPP Muhammadiyah.

“Ciri utama generasi milenial adalah mereka menyukai tantangan, sehingga dalam kasus penanganan bencana akhir ini banyak sekali anak muda yang terjun berpartisipasi,” ucapnya.

Semangat tersebut harus diarahkan dan dikoordinasikan, sebagai upaya pengoptimalisasian pelayanan kebencanaan.

Selain tantangan, ciri lain yang melekat pada generai milenial adalah kedekatan dengan pemanfaatan media baru (intenet) dan media sosial. Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai media kampanye sederhana namun efektif, karena perilaku masyarakat sekarang hampir hidup tidak bisa hidup tanpa media sosial.

“Dengan memanfaatkan kedekatan mereka dengan media sosial akan membantu kita dalam mengalang kepedulian, melalui penyebaran informasi dengan akun-akun medsos dan lainnya untuk membantu, mempermudah dan mempercepat untuk diakses khalayak,”tutur Budi.

Dalam sesi tersebut juga menghadirkan Mahli Zainudin Tago, Sekretaris Umum Badan Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Pusat.

Ia menyatakan bahwa peran dua lembaga yang berada di naungan Muhammadiyah ini sangat erat, Lazismu sebagai pengelola zakat dan MDMC sebagai penyalurnya. Ia mengistilahkan keduanya sebagai dua mata sisi uang. Menghadapi tantagan kedepan Lazismu diharapkan segera berbenah dalam penataan sistem.

“Tantangan Lazismu periode ini adalah penataan sistem. Dalam penataan sistem tersebut, Lazismu harus banyak duduk dengan berbagai pihak dalam proses penataannya. Salah satunya dengan MDMC,” ujar Mahli.

Di akhir acara, Budi berpesan untuk para melienial bahwa keberadaan mereka bisa sangat membantu dakwah menggembirakan yang digelorakan Muhammadiyah. Dengan melalui ketangkasan mereka dalam bermedia sosial. (a’n)

Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15408-detail-muhammadiyah-berdayakan-generasi-milenial-dalam-mitigasi-bencana.html

Angkat Semangat Filantropi Kader Milenial, MDMC Gembirakan Muktamar Pemuda Muhammadiyah

Bincang-Bincang Bencana dalam Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah XVII 2018 (Dok MDMC)

 

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Disaster Management Centre PP Muhammadiyah ikut serta dalam menggembirakan muktamar Pemuda Muhammadiyah yang diselenggarakan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 25-28 November 2018.

Bincang bencana dengan tema “Peran Kritis Kader Milenial dalam Mitigasi Bencana di Indonesia” turut menghadirkan Budi Setiawan selaku Ketua MDMC PP, dan Mahli Zainudin Tago selaku Sekretaris Umum badan pengurus Lazismu, Senin (26/11).

Tujuan bincang bencana kali ini adalah untuk memberdayakan generasi saat ini, dan mengembirakan dakwah persyarikatan yang sesuai dengan milad 106 Tahun Muhammadiyah, ta’awun benar-benar terealisasikan.

Ghifari Yuristiadi selaku moderator dalam acara bincang bencana menyampaikan bagaimana sikap generasi milenial terhadap gerakan filantropi dan kebencanaan. Terlebih fokus pada penanggulangan bencana.

Kunci sukses MDMC dalam meningkatkan minat generasi milenial dalam penanggulangan bencana memiliki strategi yang cukup menarik.

Budi Setiawan mengatakan banyak anak muda yang berangkat untuk menjadi relawan, oleh karenanya semangat generasi muda yang perlu diatur.

“Semangat inilah yang perlu kita ekspos sehingga eksistensi kita wadahi. Tidak butuh relawan yang banyak akan tetapi yang semangat untuk mengatur poskor dan lainnya,” ujarnya.

Disinggung lagi mengenai penghargaan yang telah diterima MDMC beberapa waktu lalu, Budi apresiasi untuk semua relawan yang mempunyai semangat luar biasa.

MDMC tidak bisa berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan Lazismu. Koordinasi dengan PP Muhammadiyah, MDMC dan Lazismu saling bekerjasama dalam dua hal, yakni MDMC fokus untuk di lapangan dan Lazismu fokus untuk fundraising.

Gerakan Muhammadiyah sangat dimotori oleh generasi milenial yang memiliki semangat filantropi.

“MDMC dan Lazismu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama” ujar Mahli Zainudin selaku Sekretaris Umum Badan Pengurus Lazismu Pusat.

“Tantangan Lazismu pada periode ini adalah penataan sistem. Karena peran Lazismu yang mengelola uang banyak itu tidaklah mudah. Dalam menata sistem itu harus banyak duduk bersama khususnya dengan MDMC,” tambahnya.

Bertemu juga dengan peserta bincang bencana Rora sekaligus relawan psikososial gempa Lombok dan Palu mengatakan bahwa, ia bangga menjadi relawan. “Karena jadi relawan itu merupakan kesempatan buat ketemu orang hebat dam bisa membantu orang di sekitar yang sekiranya membutuhkan” ujarnya.

Generasi milenial saat ini lebih mengenal dekat dengan istilah hashtag. Kali ini MDMC mengajak generasi milenial untuk kegiatan yang menyentuh, karena generasi milenial punya banyak kelebihan.

Ketua MDMC mengharapkan generasi milenial dapat mengembangkan kegiatan kerelawanan mengajak dan menceritakan secara tepat dengan cara penulisan, seperti kegiatan dalam mendampingi warga terdampak (membuat blog yang bisa dishare dan bisa berkelanjutan sehingga bisa dikenang dalam bentuk tulisan tidak hanya foto) sehingga bisa didokumentasikan. Selain itu juga menjadi generasi milenial yang aktif, serta gembira terhadap aktifitas sosial. (Mia)

Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/11/27/angkat-semangat-filantropi-kader-milenial-mdmc-gembirakan-muktamar-pemuda-muhammadiyah/

Muhammadiyah Tanggap Bencana

Gerakan tanggap bencana Muhammadiyah dikoordinir Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Foto: Istimewa.

 

Beragam bentuk musibah atau bencana yang terjadi di berbagai daerah di tanah air menjadi bagian dari garapan Muhammadiyah. Di Jawa Tengah, gerakan tanggap bencana ini dikoordinir langsung Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

KETERLIBATAN Muhammadiyah dalam kebencanaan setidaknya meliputi tiga aspek, yaitu bantuan dana, bantuan kesehatan, dan bantuan tenaga dengan menerjunkan sejumlah relawan ke lokasi bencana. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian Muhammadiyah kepada masyarakat dan kemanusiaan.

Ditegaskan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir, kepedulian dan kedermawanan Muhammadiyah tidak dipengaruhi dan terpengaruh oleh apapun. Muhammadiyah akan selalu tampil untuk membantu siapapun yang membutuhkan.
“Itulah karakter Muhammadiyah,” kata Tafsir kepada Cermin, Rabu (03/10).

Muhammadiyah, lanjut Tafsir, ikut terjun langsung membantu korban bencana. Mulai dari masa darurat sampai pasca bencana. Muhammadiyah membantu merekonstruksi sampai merehabilitasi korban selama berhari-hari di lapangan.

“Jadi bukan hanya satu atau dua hari, kita membantu korban mulai dari masa darurat hingga pasca bencana,” jelas dosen UIN Walisongo tersebut.

Menurut Tafsir, apa yang dilakukan Muhammadiyah berdasarkan satu prinsip bahwa bencana membawa berkah. Seberapa menyedihkan bencana yang terjadi harus diupayakan agar korban bisa berubah dan segera mengakhiri kesedihannya.

“Pindah kepada semangat baru untuk membangun kembali daerah yang terkena bencana. Sehingga jangan lama-lama bersedih. Harus membangun mental baru, membangun situasi baru dan gerakan baru,” tuturnya.

Dengan prinsip ini, lanjut Tafsir, penanganan bencana tidak cukup hanya pada masa darurat. Tetapi juga pasca bencana yang sifatnya monumental. Misalnya, bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammadiyah membangun klinik utama rawat inap PKU Muhammadiyah KLU Kabupaten Lombok Utara. Hal tersebut menurut Tafsir sanga monomental, sehingga sehingga tidak berakhir seiring berakhirnya bencana. Sebaliknya memberi manfaat selamanya bagi masyarakat setempat.

“Itu yang kita pahami sebagai musibah membawa berkah bagi para korban,” jelasnya.

Tafsir menjelaskan, kalau memahami ayat Al-Quran tentang bencana, maka selalu diarkhiri dengan bacaan wabasshirisshobirin, yaitu berilah kabar gembira. Artinya, manusia dituntut untuk menggembirakan, bukan menyudutkan mereka yang terkena musibah dengan mengaitkan dengan kesalahannya. Sebagaimana terjadi NTB, karena salah satu lokasi yang terkena musibah dikenal sebagai pusat maksiat, kemudian ada yang mengaitkan dengan tempat tersebut.

“Menurut saya itu nggak etis,” tegas Tafsir.

Tafsir menegaskan, di belahan bumi manapun pasti ada kemaksiatan. Karena ada orang yang taat dan orang yang melanggar. Sehingga menjadi tidak logis jika membicarakan orang yang terkena musibah dengan mencari-cari aib kesalahannya.

“Seharusnya manusia ikhlas saja dengan tidak mencari kesalahan dan saling menyalahkan. Karena manusia hidup di dunia, bukan di surga. Jadi ada percampuran antara maksiat dan taat. Kalau maksiat semua ya itu di neraka,” paparanya.

Kategori Bencana

Secara spesifik Muhammadiyah tidak mengkategorikan bencana yang terajdi ke dalam beberapa macam. Ketika ada bencana, Muhammadiyah mengukurnya dengan melihat kemampuan Muhammadiyah. Jika bencana yang terjadi kecil, maka cukup ditangani oleh warga Muhammadiyah setempat. Namun, jika Muhammadiyah setempat merasa berat, maka akan ditopang oleh kepemimpinan Muhammadiyah yang lebih luas.

“Kita tidak mengkategorikan ukuran berdasarkan kemampuan warga Muhammadiyah setempat,” ucap Tafsir.

Yang paling penting, lanjut Tafsir, Muhammadiyah secepat mungkin bergerak dan tidak menunda-nunda waktu ketika terjadi bencana. Muhammadiyah tidak terikat dengan peringatan pemerintah karena prinsipnya, begitu terjadi bencana, sekarang juga berangkat sebagai bentuk peduli pada kemanusiaan.

“Intinya Muhammadiyah selalu ada dan siap membantu,” tegasnya.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah Naibul Umam menambahkan, MDMC sebagai lembaga penanggulan bencana selalu siaga. MDMC bertugas melakukan kegiatan-kegiatan sejak pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Untuk pra bencana, MDMC mengadakan pelatihan kepada relawan, baik internal maupun relawan eksternal. Saat terjadi bencana, MDMC mempersiapkan personel yang setiap saat bisa mendatangi lokasi bencana. Sedangkan untuk pasca bencana, MDMC melakukan program-program pemulihan, misalnya membangun layanan kesehatan, layanan sosial, masjid, mushalla, dan klinik.

“Ketika bencana Lombok kita memberangkatkan sekitar 300 relawan sejak tanggal 29 Juli pada gempa pertama, berlanjut hingga gempa kedua dan ketiga. Di sana kami sampai bulan November, sekitar 4 bulanan,” jelasnya.

MDMC, lanjut Umam, selalu tersedia sesuai dengan kebutuhan. Siapapun yang meminta akan dibantu. Bahkan, penah juga MDMC Jateng bergabung dengan MDMC wilayah lain diminta berangkat ke luar negeri, termasuk ke Nepal dan Palestina.

“MDMC hampir berkiprah di semua tempat terjadinya bencana,” katanya.

Umam menambahkan, bencana merupakan urusan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Sedangkan, kedudukan MDMC adalah suporting. Jika pemerintah membutuhkan bantuan, MDMC mensupport. Misalnya, banjir di Brebes, Pekalongan, Jepara, Kudus dan atau daerah-daaerah lain.

“Kita prinsipnya berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan. Sehingga ada istilah go no go, yaitu berangkat atau tidak. Seperti di Palu kemarin butuh tim SAR, maka kita kirim kesana untuk mencari jenazah. Insyaallah MDMC Jateng hampir memiliki semua kualifikasi kecuali dukun” jelasnya.

Seluruh kegiatan MDMC, dikatakan umat disupport penuh LazisMu Jateng. MDMC dan LazisMu ibaratnya sekeping mata uang, dimana ada bencana disitu ada MDMC dan LazisMu. LazisMu adalah satu-satunya lembaga yang diberikan kewenangan oleh pemerintah dan Muhammadiyah untuk menggalang dana.

“LazisMu bisa melakukan penggalangan dana tapi MDMC tidak boleh, MDMC hanya boleh menerima dana, jadi masalah pendanaan di Muhammadiyah terpusat di LazisMu,” tegasnya.

Ketua LazisMu Jateng Dodok Sartono menambahkan, LazisMu sebagai penggerak pendanaan berada dalam satu komando di bawah Muhammadiyah dalam payung One Muhammadiyah One Response. Artinya, semua komponen Muhammadiyah terjun menangani bencana atas instruksi dari Pimpinan Muhammadiyah.

“Dana LazisMu melalui penggalangan masyarakat. Semua unsur Muhammadiyah digerakkan untuk menghimpun dana secara berjenjang. Mulai dari Muhammadiyah ranting, cabang, daerah, wilayah sampai ke Muhammadiyah pusat. Kewenangan otoritas pendana ialah Muhammadiyah pusat.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin cetak edisi Oktober 2018

Sumber: https://tabloidcermin.com/2018/11/27/laporan-utama-muhammadiyah-tanggap-musibah/

Latgab: Siap Siaga Sebelum Bencana

Gerakan tanggap bencana Muhammadiyah dikoordinir Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Foto: Istimewa.

MUHAMMADIYAH Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah menjadi pusat penanganan bantuan kebencanaan Muhammadiyah Jawa Tengah. Kegiatan MDMC tidak hanya terjun langsung ketika bencana terjadi. Namun, MDMC selalu siap siaga dengan menggelar pelatihan-pelatihan agar untuk membekali kader-kadernya agar memiliki skill tanggap bencana.

Ketua MDMC Jawa Tengah Naibul Umam mengatakan, salah satu kegiatan MDMC ialah Latihan Gabungan (Latgab) yang melibatkan ratusan tim SAR dari kader Muhammadiyah se Jawa Tengah. Latgab dilakukan setahun sekali. Sementara, saat ini tercatat sudah Latgab ke-5 Jambore.

“Ratusan anak muda kader Muhammadiyah sudah menjadi tim SAR. Kemudian di daerah-daerah juga mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan sendiri sehingga kegiatan paling banyak Insya Allah di MDMC,” kata Naibul Umam kepada Tabloid Cermin, Kamis (04/10).

Menurut Umam, kajian kebencanaan ada ilmunya. Oleh karenanya, pelatihan dianggap perlu. Mulai dari manajemen dasar hingga penanggulangan bencana. Kegiatan ini diberikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan shelter bangun hunian.

“Pelatihan-pelatihan kita lakukan, semuanya jalan terus,” katanya.

Selian itu, Umam melanjutkan, MDMC juga diminta menjadi fasilitator penyusunan dokumen desa tangguh bencana. Program ini sudah berlangsung sejak 2010. Banyak dari MDMC yang kini telah menjadi fasilitator di badan penanggulan bencana oleh pemerintah.

“Jadi jangan ditanya, kalau masalah semangat penanggulangan bencana mereka tidak pernah berhenti. Karena gerakan Muhammadiyah dan dari berbagai bagian dari Muhammadiyah seperti Aisyiyah, pemuda dan lain-lain itu karena sentuhan dari MDMC,” papar Umam.

Umam mengatakan, MDMC di daerah-daerah saat ini juga sudah terbentuk di 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah. Setiap PDM ada, meskipun intensinya berbeda-beda satu dengan yang lain.

“Ada yang jalannya kenceng ada yang lambat. Ada yang biasa, di mana-mana sama, tapi Insya Allah semuanya sudah ada MDMC tingkat daerah. Bahkan MDMC tingkat cabang ada, MDMC tingkat ranting pun juga ada,” jelasnya.

Umam menambahkan, semua majelis di Muhammadiyah harus menjadi media dakwah, tak terkecuali MDMC. Dia berharap agar kader-kader Muhammadiyah di MDMC bisa berlari kencang dan bisa menguasai semua lini. Sehingga peluang-peluang yang ada tidak dikuasai oleh pihak lain.

”MDMC PP Muhammadiyah itu menjadi unsur pengarah di BPNB ditunjuk oleh pemerintah. Bahkan sekarang dokter Rahmawati Husein, salah satu bidang di PBB untuk urusan penanggulangan bencana dari Muhammadiyah,” ucapnya.

Menurut Umam, nama MDMC sebenarnya sudah besar dan kiprahnya sudah diakui.

Sementara itu, Ketua Lazismu Jawa Tengah Dodok Sartono menambahkan, Lazismu selalu menyisihkan dana untuk kemanusiaan, khususnya bencana. Dana tersebut bersifat fleksibel sehingga pemanfaatannya bisa digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi bencana. Untuk itu, Muhammadiyah bisa merespon cepat terhadap bencana melalui dana tersebut.

“Kita menyisihkan dana untuk kemanusiaan yang sewaktu-waktu bisa digunakan secara cepat,” ucap Dodok.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang di Tabloid Cermin versi cetak edisi Oktober 2018

Sumber: https://tabloidcermin.com/2018/11/27/laporan-utama-latgab-siap-siaga-sebelum-bencana/