Bantuan yang terhambat untuk Palu-Donggala

Jakarta, (ANTARA News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terdapat 2,4 juta penduduk yang terkena dampak dari gempa bumi dan terjangan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9), dan tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Donggala serta delapan kecamatan di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sementara itu jumlah pengungsi di Kota Palu saja diperkirakan berjumlah 16.700 orang dan tersebar di 24 titik.

Hingga Sabtu malam, data sementara korban meninggal berjumlah 420 orang, orang hilang 29 orang, dan korban luka berat hingga 540 orang.

Korban luka berat hingga saat ini dirawat di lima rumah sakit yaitu, RS Woodward Palu sebanyak 28 orang, RS Budi Agung Palu sebanyak 114 orang, RS Samaritan Palu 42 orang, RS Undata Mamboro Palu sebanyak 160 orang, dan RS Wirabuana sebanyak 184 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah karena proses pencarian masih terus dilakukan.

Apalagi hingga berita ini diturunkan Sutopo menjelaskan bahwa pihak BNPB masih belum banyak mendapatkan informasi dari BPBD Kabupaten Donggala dan sekitarnya karena terputusnya berbagai layanan komunikasi di wilayah tersebut.

Hal ini tentu mengakibatkan BNPB kesulitan untuk mendapatkan data jumlah korban jiwa serta kerusakan yang terjadi.

Pascagempa dan tsunami wilayah Kota Palu dan Kabupaten Donggala terbilang lumpuh, sehingga banyak kebutuhan warga yang sulit bahkan tidak dapat terpenuhi.

Sebut saja bahan bakar, listrik, obat-obatan, bahan pangan, air bersih, alat penerangan, genset, dapur umum, tenda, terpal, selimut, makanan siap saji, makanan bayi dan anak, tenaga medis, hingga kantung mayat dan kain kafan.

Kondisi ini kemudian menggerakkan sejumlah pihak untuk memberikan bantuan.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah menyatakan provinsinya siap membantu korban gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, meskipun wilayah NTB masih dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi setelah gempa bumi beruntun mengguncang bagian wilayahnya sejak 29 Juli hingga Agustus.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) juga menyatakan bersiap untuk memberangkatkan relawan ke Palu guna membantu korban gempa dan tsunami.

MDMC Indonesia juga berencana untuk mengirim lima tim respon tanggap bencana.

Lima tim itu terdiri atas Tim MDMC Toli-Toli, MDMC Sulawesi Selatan, MDMC Gorontalo, tim medis RS Muhammadiyah Lamongan, dan RS Muhammadiyah Siti Khatidjah Makassar.

Wakil Ketua MDMC Arif Jamali menyampaikan, tim MDMC Sulawesi Selatan dan tim MDMC di beberapa daerah terdekat sudah berangkat lebih dulu menuju Palu lewat jalur darat.

Rencananya MDMC Indonesia akan mendirikan pos koordinasi di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah.

RSUP Prof RD Kandou Manado, Sulawesi Utara, juga telah mengirimkan tim tanggap darurat ke Palu dan Donggala, yaitu sembilan orang dokter, serta obat-obatan dan sejumlah alat implan untuk mengobati pasien yang mengalami patah tulang.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP Kandou Manado, Hanry Takasenseran menjelaskan tim tanggap darurat dan bantuan obat-obatan ini diberangkatkan dengan menggunakan pesawat ke Gorontalo, kemudian melanjutkan dengan perjalanan darat, sebab bandara di Palu belum dapat beroperasi akibat kerusakan infrastruktur.

Berbagai bantuan lain juga banyak yang mulai didatangkan, namun terkendala dengan akses jalan menuju lokasi yang mengalami kerusakan.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Sosial telah mengirimkan bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, namun belum sampai ke lokasi karena terkendala akses jalan yang rusak.

Mensos yang saat ini sedang berada di Palu mengatakan Kementerian Sosial telah mengirimkan bantuan logistik dan kebutuhan lainnya dari Gorontalo dan Makassar melalui jalur darat.

Bantuan dari Gudang Kemensos Regional Timur yang ada di Makassar yang didistribusikan melalui jalur darat terdiri dari 100 velbed, dua tenda serbaguna keluarga, 1.500 matras, 3.000 selimut, 200 family kit, 200 kids ware, 100 tenda gulung, 345 food ware, dan 100 paket sandang.

Selain itu bantuan dari Jakarta juga sudah disiapkan, namun menunggu diterbangkan ke Sulawesi Tengah.

Bantuan yang disiapkan adalah 1.000 kardus makanan cepat saji, 2.000 velbed, 25 tenda serbaguna, 3.000 tenda gulung, dua paket perlengkapan dapur umum lapangan, 1.000 matras, dan 1.500 kasur.

Selain itu Kemensos juga memobilisasi kendaraan siaga bencana dari daerah penyangga berupa mobil rescue, truk, dan terutama mobil dapur umum lapangan yang bisa digunakan untuk memasak cepat dalam jumlah besar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan seluruh bantuan untuk korban bencana di Palu dan Donggala mengalami kesulitan menuju lokasi, kaena akses jalan yang sangat sulit.

Hampir seluruh jalan menuju lokasi mengalami kerusakan seperti retak, amblas, atau bahkan longsor. Hal ini mengakibatkan seluruh bantuan yang dikirim melalui jalur darat harus mencari jalur lain untuk mencapai lokasi.

“Jalur darat ada yang bisa dilalui, namun harus memutar cukup jauh. Misalnya kalau jalur biasa memakan waktu cukup dua jam, dengan jalur memutar ini bisa memakan waktu delapan jam,” jelas Sutopo.

Kondisi ini semakin dipersulit karena hingga berita ini diturunkan, BNPB mengalami banyak kesulitan untuk menghubungi BPBD Donggala, karena akses komunikasi yang hilang, sehingga belum diketahui berapa jumlah korban jiwa serta kerusakan yang terjadi.

Sumber : https://today.line.me/id/pc/article/Bantuan%2Byang%2Bterhambat%2Buntuk%2BPalu%2BDonggala-7MGOvM

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts
Langganan Berita dan Artikel dari MDMC

Untuk langganan update Berita dan Artikel terbaru dari MDMC, silahkan tuliskan nama dan alamat e-mail di bawah ini