Muhammadiyah Tanggap Bencana

November 27, 2018 / Comments (0)

Berita Kegiatan

Gerakan tanggap bencana Muhammadiyah dikoordinir Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Foto: Istimewa.

 

Beragam bentuk musibah atau bencana yang terjadi di berbagai daerah di tanah air menjadi bagian dari garapan Muhammadiyah. Di Jawa Tengah, gerakan tanggap bencana ini dikoordinir langsung Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

KETERLIBATAN Muhammadiyah dalam kebencanaan setidaknya meliputi tiga aspek, yaitu bantuan dana, bantuan kesehatan, dan bantuan tenaga dengan menerjunkan sejumlah relawan ke lokasi bencana. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian Muhammadiyah kepada masyarakat dan kemanusiaan.

Ditegaskan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir, kepedulian dan kedermawanan Muhammadiyah tidak dipengaruhi dan terpengaruh oleh apapun. Muhammadiyah akan selalu tampil untuk membantu siapapun yang membutuhkan.
“Itulah karakter Muhammadiyah,” kata Tafsir kepada Cermin, Rabu (03/10).

Muhammadiyah, lanjut Tafsir, ikut terjun langsung membantu korban bencana. Mulai dari masa darurat sampai pasca bencana. Muhammadiyah membantu merekonstruksi sampai merehabilitasi korban selama berhari-hari di lapangan.

“Jadi bukan hanya satu atau dua hari, kita membantu korban mulai dari masa darurat hingga pasca bencana,” jelas dosen UIN Walisongo tersebut.

Menurut Tafsir, apa yang dilakukan Muhammadiyah berdasarkan satu prinsip bahwa bencana membawa berkah. Seberapa menyedihkan bencana yang terjadi harus diupayakan agar korban bisa berubah dan segera mengakhiri kesedihannya.

“Pindah kepada semangat baru untuk membangun kembali daerah yang terkena bencana. Sehingga jangan lama-lama bersedih. Harus membangun mental baru, membangun situasi baru dan gerakan baru,” tuturnya.

Dengan prinsip ini, lanjut Tafsir, penanganan bencana tidak cukup hanya pada masa darurat. Tetapi juga pasca bencana yang sifatnya monumental. Misalnya, bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammadiyah membangun klinik utama rawat inap PKU Muhammadiyah KLU Kabupaten Lombok Utara. Hal tersebut menurut Tafsir sanga monomental, sehingga sehingga tidak berakhir seiring berakhirnya bencana. Sebaliknya memberi manfaat selamanya bagi masyarakat setempat.

“Itu yang kita pahami sebagai musibah membawa berkah bagi para korban,” jelasnya.

Tafsir menjelaskan, kalau memahami ayat Al-Quran tentang bencana, maka selalu diarkhiri dengan bacaan wabasshirisshobirin, yaitu berilah kabar gembira. Artinya, manusia dituntut untuk menggembirakan, bukan menyudutkan mereka yang terkena musibah dengan mengaitkan dengan kesalahannya. Sebagaimana terjadi NTB, karena salah satu lokasi yang terkena musibah dikenal sebagai pusat maksiat, kemudian ada yang mengaitkan dengan tempat tersebut.

“Menurut saya itu nggak etis,” tegas Tafsir.

Tafsir menegaskan, di belahan bumi manapun pasti ada kemaksiatan. Karena ada orang yang taat dan orang yang melanggar. Sehingga menjadi tidak logis jika membicarakan orang yang terkena musibah dengan mencari-cari aib kesalahannya.

“Seharusnya manusia ikhlas saja dengan tidak mencari kesalahan dan saling menyalahkan. Karena manusia hidup di dunia, bukan di surga. Jadi ada percampuran antara maksiat dan taat. Kalau maksiat semua ya itu di neraka,” paparanya.

Kategori Bencana

Secara spesifik Muhammadiyah tidak mengkategorikan bencana yang terajdi ke dalam beberapa macam. Ketika ada bencana, Muhammadiyah mengukurnya dengan melihat kemampuan Muhammadiyah. Jika bencana yang terjadi kecil, maka cukup ditangani oleh warga Muhammadiyah setempat. Namun, jika Muhammadiyah setempat merasa berat, maka akan ditopang oleh kepemimpinan Muhammadiyah yang lebih luas.

“Kita tidak mengkategorikan ukuran berdasarkan kemampuan warga Muhammadiyah setempat,” ucap Tafsir.

Yang paling penting, lanjut Tafsir, Muhammadiyah secepat mungkin bergerak dan tidak menunda-nunda waktu ketika terjadi bencana. Muhammadiyah tidak terikat dengan peringatan pemerintah karena prinsipnya, begitu terjadi bencana, sekarang juga berangkat sebagai bentuk peduli pada kemanusiaan.

“Intinya Muhammadiyah selalu ada dan siap membantu,” tegasnya.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah Naibul Umam menambahkan, MDMC sebagai lembaga penanggulan bencana selalu siaga. MDMC bertugas melakukan kegiatan-kegiatan sejak pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Untuk pra bencana, MDMC mengadakan pelatihan kepada relawan, baik internal maupun relawan eksternal. Saat terjadi bencana, MDMC mempersiapkan personel yang setiap saat bisa mendatangi lokasi bencana. Sedangkan untuk pasca bencana, MDMC melakukan program-program pemulihan, misalnya membangun layanan kesehatan, layanan sosial, masjid, mushalla, dan klinik.

“Ketika bencana Lombok kita memberangkatkan sekitar 300 relawan sejak tanggal 29 Juli pada gempa pertama, berlanjut hingga gempa kedua dan ketiga. Di sana kami sampai bulan November, sekitar 4 bulanan,” jelasnya.

MDMC, lanjut Umam, selalu tersedia sesuai dengan kebutuhan. Siapapun yang meminta akan dibantu. Bahkan, penah juga MDMC Jateng bergabung dengan MDMC wilayah lain diminta berangkat ke luar negeri, termasuk ke Nepal dan Palestina.

“MDMC hampir berkiprah di semua tempat terjadinya bencana,” katanya.

Umam menambahkan, bencana merupakan urusan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Sedangkan, kedudukan MDMC adalah suporting. Jika pemerintah membutuhkan bantuan, MDMC mensupport. Misalnya, banjir di Brebes, Pekalongan, Jepara, Kudus dan atau daerah-daaerah lain.

“Kita prinsipnya berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan. Sehingga ada istilah go no go, yaitu berangkat atau tidak. Seperti di Palu kemarin butuh tim SAR, maka kita kirim kesana untuk mencari jenazah. Insyaallah MDMC Jateng hampir memiliki semua kualifikasi kecuali dukun” jelasnya.

Seluruh kegiatan MDMC, dikatakan umat disupport penuh LazisMu Jateng. MDMC dan LazisMu ibaratnya sekeping mata uang, dimana ada bencana disitu ada MDMC dan LazisMu. LazisMu adalah satu-satunya lembaga yang diberikan kewenangan oleh pemerintah dan Muhammadiyah untuk menggalang dana.

“LazisMu bisa melakukan penggalangan dana tapi MDMC tidak boleh, MDMC hanya boleh menerima dana, jadi masalah pendanaan di Muhammadiyah terpusat di LazisMu,” tegasnya.

Ketua LazisMu Jateng Dodok Sartono menambahkan, LazisMu sebagai penggerak pendanaan berada dalam satu komando di bawah Muhammadiyah dalam payung One Muhammadiyah One Response. Artinya, semua komponen Muhammadiyah terjun menangani bencana atas instruksi dari Pimpinan Muhammadiyah.

“Dana LazisMu melalui penggalangan masyarakat. Semua unsur Muhammadiyah digerakkan untuk menghimpun dana secara berjenjang. Mulai dari Muhammadiyah ranting, cabang, daerah, wilayah sampai ke Muhammadiyah pusat. Kewenangan otoritas pendana ialah Muhammadiyah pusat.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin cetak edisi Oktober 2018

Sumber: https://tabloidcermin.com/2018/11/27/laporan-utama-muhammadiyah-tanggap-musibah/