Jalan Panjang MDMC-Lazismu Menanggulangi Bencana di Palu

Relawan Kesehatan Muhammadiyah berkhidmat bantu warga terdampak bencana di Palu

PALU, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Disater Managemant Center (MDMC) bersama Lazismu mengambil peran dalam penanggulangan bencana gempa dan tsunami di Donggala – Palu, Sulawesi Tengah. Sejak terjadinya bencana pada Kamis 28 September 2018 waktu yang lalu, 144 orang relawan MDMC-Lazismu telah di kirimkan untuk melakukan respon kepada terdampak. Tim relawan MDMC -Lazismu merupakan gabungan dari relawan Muhammadiyah Makassar, Toli-toli, Palu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, Jawa Timur, dan gubungan Tim Relawan seluruh Indonesia lainnya.

Tim Relawan tersebut adalah tenaga medis yang terdiri dokter spesialis dan perawat dari RS Pondok Kopi, RSI Cempaka Putih, RS Muhammadiyah Lamongan, UMKT, UNISMUH, dan Tim Medis MDMC -Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, serta relawan yang memiliki kapasitas di bidang Search and Rescue (SAR), dan manajemen Dapur Umum.

Disampaikan oleh Ketua MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budi Setiawan, hingga saat ini (10/10) relawan Muhammadiyah telah melakukan assessment secara maksimal untuk terdampak. Seperti melalukan pelayanan kesehatan yang ditempatkan di Kampus Unismuh Palu, Lombo Dolo Kabupaten Donggala, Sidera Kabupaten Sigi, Bobo Kabupaten Sigi, Tanamo Dinding Kota Palu dan Pengawu Kota Palu.

Pelayanan kesehatan dilakukan melalui kegiatan mobile dan melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan untuk menentukan assessment di daerah-daerah terdampak.

“Melihat, data yang dihimpun pada Selasa (9/10) terdapat 1220 jiwa yang membutuhkan penanganan medis. Maka sejak Rabu (3/10) lalu, kami telah mengirimkan 10 Dokter Spesialis untuk menambah tenaga medis dalam melakukan pelayanan medis,” ungkapnya.

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan logistik, MDMC-Lazismu telah mendistribusikan 26 lembar terpal, 87 paket alas tidur, 55 hygine kit, 26 dos popok bayi, 1 dos pembalut wanita, 3 unit genset, 1522 dos air mineral, 1522 dos mie instan, 1200 kg beras, 139 bungkus biskuit, 121 bungkus kopi, 9 dos minyak telon, dan 89 dos susu balita.

Sejumlah Logistik tersebut, didistribusikan kepada warga terdampak di Desa Towale Kecamatan Banawa Tengah, Desa Kola-kola Kecamatan Banawa Tengah, dan pendistribusian secara langsung kepada warga terdampak di Pos Koordinasi (Poskor) Universitas Muhamamdiyah (Unismuh) Palu.

“Jumlah logistik yang telah didistribusikan sejak 3-7 Oktober 2018 telah diberikan kepada 3.006 Kartu Keluarga (KK) atau 12.055 orang terdampak,” pungkasnya.

Untuk dapat mendistribusikan logistik tersebut, disampaikan oleh Arif Rahman Relawan MDMC-Lazismu bahwa pihaknya merupakan salah satu relawan yang harus menempuh jalan panjang dan terjal. Hal itu ia alami pada saat mengantarkan bantuan logistik dari Muhammadiyah Pare-Pare ke Pos Koordinasi di Unismuh Palu. Perjalanan darat dilanjutkan denggan menggunakan satu unit ambulance karena kesulitan mencari transportasi lainnya.

Kedatangan logistik dan relawan Muhammadiyah tentunya sebanding dengan kebutuhan makanan yang dikomunikasikan oleh Tim Dapur Umum (DU) MDMC-Lazismu. Selama masa tanggap darurat bencana gempa dan tsunami Palu, DU di Poskor difungsikan untuk menyuplai kebutuhan makanan terdampak dan relawan yang berada di pengungsian. Setiap harinya, tim DU memasak dengan kapasitas 200 bungkus nasi.

Sedangkan, pada kegiatan pasca bencana, MDMC-Lazismu mengadakan kegiatan psikososial untuk mendampingi terdampak dalam masa pemulihan. Hal tersebut dilakukan oleh tim relawan berupa bermain bersama anak-anak, pendampingan belajar dan menggambar, pembimbingan pelajaran agama dan mengaji, dan mengedukasi tentang kebencanaan di Poskor Unismuh Palu dan Desa Bobo Kecamatan Dolo Barat Kabupaten Sigi.

Sementara, dampak lain yang dirasakan masyarakat ialah kesulitan terhadap akses air bersih. Melihat hal tersebut, pada Senin (8/10) kemarin MDMC telah menggagas Water and Sanitation Hygine Promotion (Wash) atau bantuan penampung air bersih normalisasi instalasi air bersih yang berada di Poskor Unismuh Palu. Disampaikan oleh Yockie Asmoro Relawan Muhammadiyah di Palu bahwa pemasangan instalasi air bersih yang nantinya akan didistribusikan ke delapan titik Posyan.

“Secara prinsip pengelolaan hunian akan terintegrasi dengan Wash sehingga akan memudahkan bagi warga terdampak dalam mengakses air untuk memenuhi kebutuhan pribadi,” ucapnya.

Selain pembangunan fasilitas air di delapan titik, MDMC-Lazismu telah menginisiasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) berupa mendistribusikan tenda dan pembangunan 5 buah tenda secara serentak.

Harapan Budi, dengan hadirnya Relawan sebagai bentuk pertolongan untuk warga terdampak bencana Gempa dan Tsunami di Palu sehingga dapat memberikan kebaikan kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (Sls)

Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/11/14/jalan-panjang-mdmc-lazismu-menanggulangi-bencana-di-palu/

Perlukah Rumah Sakit Lapangan di Lokasi Bencana?

Foto: Zaenal Effendi

Jakarta –
Hanya dalam sepekan, korban meninggal akibat gempa-tsunami-likuifaksi di Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai 2000-an orang (WHO, 8 Oktober). Selain rusaknya kapasitas lokal seperti rumah sakit dan puskemas, sulitnya akses bantuan medis dan SAR dari luar Sulteng juga menyumbang besarnya angka korban tersebut. Bagaimana tidak, rata-rata bantuan medis bisa masuk kota Palu pada hari ketiga karena harus melalui Gorontalo, lanjut jalan darat selama lebih dari 13 jam.

Apa kemungkinan buruk yang terjadi di hari ketiga bila tidak ada pertolongan medis? Pasien dengan perdarahan masif atau cedera kepala berat hampir pasti tak selamat; pasien patah tulang terbuka mengalami infeksi; korban tertimbun jika masih bertahan hidup sudah pasti dehidrasi berat; tertundanya penanganan cedera meningkatkan angka kecacatan. Tak heran korban meninggal mencapai angka ribuan.

Persoalan berkembang. Dengan rusaknya RSUD Anutapura dan Undata, tindakan operasi terhambat. Selain karena tenaga medis yang kurang karena juga terdampak, melakukan tindakan operasi di dalam gedung juga mengkhawatirkan selama gempa susulan terus terjadi.

Selain itu, rusaknya kedua rumah sakit tersebut sebagai pusat rujukan di kota Palu mengakibatkan sistem rujukan antarrumah sakit atau puskesmas ke rumah sakit mengalami gangguan hebat. Pada saat yang sama, puskesmas terdampak dan disfungsi. Andai tetap berfungsi, tidak mampu menangani pasien berat yang sayangnya juga mengalami kesulitan merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap karena juga rusak. Solusi yang ditempuh atas persoalan itu adalah pasien dirujuk ke Makassar dengan pesawat yang terbatas kapasitasnya bila dibandingkan dengan jumlah pasien cedera yang ribuan jumlahnya.

Melihat persoalan ini, banyak aktivis medis kebencanaan mendiskusikan soal perlunya rumah sakit lapangan sebagai solusi, khususnya di hari-hari awal bencana, hari-hari pertaruhan nyawa. Rumah sakit lapangan yang segera digelar diharapkan mampu menjadi pengganti fungsi fasilitas kesehatan yang rusak, memperpendek jarak rujukan dan mempercepat tindakan definitif. Perlukah?

Konsepsi Rumah Sakit Lapangan

Umumnya, banyak yang menyebut tenda layanan kesehatan sebagai rumah sakit lapangan. Padahal kalau merujuk pada Pedoman Pengelolaan Rumah Sakit Lapangan untuk Bencana oleh Kementerian Kesehatan RI (2008), rumah sakit lapangan digambarkan sebagai fasilitas yang lengkap, terdiri dari tenda unit gawat darurat, tenda operasi, tenda perawatan, ICU, radiologi, laboratorium, farmasi, gudang, tenda personel, laundry, fasilitas sterilisasi, dan lainnya. Selain itu terdapat sarana komunikasi, pembangkit listrik, dapur, toilet/kamar mandi, pembuangan limbah, dan lainnya. Jadi, merupakan rumah sakit seperti pada umumnya hanya saja menggunakan tenda (yang sekarang makin berkembang menggunakan kontainer atau yang lain). Bukan sekadar tenda yang dipakai layanan kesehatan biasa seperti dalam bakti sosial.

Dalam standar WHO tidak secara spesifik disebutkan bentuk rumah sakit lapangan, tapi berdasar standar minimum kapasitas layanan. Ada empat tipe layanan Emergency Medical Team (EMT). Tipe 1, adalah layanan pasien rawat jalan yang mampu melakukan layanan kesehatan non-operatif kepada minimal 100 pasien per hari, bekerja pada jam kerja, bisa dalam bentuk mobile atau stationary. Tipe 2, adalah layanan bedah dan 7 tempat tidur rawat inap yang bekerja 24 jam sehari, mampu melakukan 7 bedah mayor atau 15 bedah minor per harinya. Tipe 3, adalah layanan rujukan yang memiliki fasilitas lengkap seperti bedah kompleks, dan 4-6 tempat tidur ICU dengan 24 jam kerja. Selain 3 tipe layanan tersebut, ada layanan khusus yang disebut Specialist Cell yang merupakan supplementary terhadap EMT Tipe 2, Tipe 3, atau rumah sakit lokal misalnya layanan luka bakar, hemodialisis dan crush syndrome, bedah wajah, bedah orthoplastic, dan lainnya. (WHO, 2013)

Nah, bentuk rumah sakit lapangan bisa berbagai macam, yang penting mampu memberikan layanan tersebut. Sebagai gambaran, satu set terbesar rumah sakit lapangan milik TNI bisa mencapai 58 tenda, dengan umumnya digelar 12-14 tenda pada saat darurat. Sementara, EMT yang telah terverifikasi oleh WHO sebagai Tipe 2 seperti milik Australian Medical Action Team terdiri dari 28 tenda, milik Inggris sekitar 108 tenda dengan segala kelengkapan serupa dengan pedoman Kemenkes, yang bila digelar membutuhkan tempat sampai seluas lapangan bola.

Mobilitas dan Kapabilitas

Untuk mengangkut fasilitas selengkap itu, 12-14 tenda dan personelnya, rata-rata memerlukan minimal 3-4 Pesawat Hercules. Bisa dibayangkan berapa pesawat dibutuhkan untuk 28, 58, atau 108 tenda dengan segala kelengkapannya. Maka, tantangan yang dihadapi antara lain soal landasan pesawat di lokasi bencana. Kita tahu, salah satu yang menghambat pengiriman tim penyelamat ke Palu kemarin antara lain rusaknya landasan pesawat.

Jika berbicara soal life saving, yang dibutuhkan adalah tim penyelamat yang mampu datang, bergerak, dan menemukan korban dengan cepat lalu memberikan pertolongan secara tepat. Pada saat yang sama, tim ini harus sekaligus memiliki kecepatan untuk menjangkau setiap ujung negeri kepulauan ini.

Pada kasus gempa, longsor, tsunami, banjir bandang, dan bencana yang menciptakan korban cedera dan kematian besar, tim live safer harus mampu melakukan tindakan taktis medis. Pertama, memilih dan memilah mana korban yang membutuhkan tindakan life saving, mana yang hanya perlu penanganan medis biasa. Dalam istilah medis, tindakan ini disebut “triage”. Tanpa triage, fasilitas layanan kesehatan akan mengalami overload pasien, campur antara pasien darurat dan pasien umum, sehingga memperlambat penanganan pasien darurat.

Kedua, melakukan pertolongan awal untuk mencegah kematian. Ketiga, melakukan pertolongan lanjut seperti Damage Control Surgery atau Damage Control Resuscitation. Ini adalah tindakan-tindakan (termasuk bedah) untuk menyelamatkan nyawa seperti menghentikan perdarahan, meringankan cedera otak berat, atau tindakan life saving lainnya yang jika tidak dilakukan, nyawa pasien melayang. Tindakan yang tak langsung terkait penyelamatan nyawa, misalnya menyambung tulang, tidak dilakukan oleh tim ini tapi oleh tim lain di waktu kemudian saat situasi sudah kondusif.

Untuk melakukan semua itu sesungguhnya tidak harus menggunakan fasilitas rumah sakit lapangan yang lengkap, cukup unit-unit layanan resusitasi dan operasi yang layak. Membawa rumah sakit lapangan lengkap malah akan membebani loading barang, memperlama persiapan, apalagi jika untuk mencapai pelosok yang jauh.

Bentuk tim tidak terlalu kompleks, dengan mobile team sebagai ujung tombak untuk menjangkau korban dan Advanced Medical Facility (AMF) untuk Damage Control Surgery, resusitasi, dan rawatan pascaoperasi. Ini bisa digambarkan seperti gurita: mobile team sebagai kaki-kakinya, dan AMF sebagai kepalanya. AMF tidak perlu sebesar rumah sakit lapangan lengkap, cukup ruang resusitasi, operasi, dan beberapa tenda penunjang. Gambarannya seperti Tim Bedah Lapangan yang dimiliki TNI, 4-5 tenda, dengan fasilitas penunjang.

Kembali ke soal mobilitas. Untuk mengangkut tim dan fasilitas yang tidak terlalu besar ini tidak harus menggunakan Hercules, bisa menggunakan helikopter jenis Mi atau Super Puma, sedangkan personel bisa menggunakan jenis Bell atau sekelasnya. Tak perlu landasan panjang, cukup tanah lapang yang dikondisikan. Jadi, lebih mudah menjangkau area terisolasi.

Meski demikian, daya jangkau helikopter tak sejauh pesawat sehingga juga tidak mudah menjangkau dari Jawa ke Papua, misalnya. Jadi, masih membutuhkan pesawat bila jarak jauh. Di sinilah tampak tantangan bagi kita, negara kepulauan yang luas.

Pendekatan Komprehensif

Melihat berbagai kebutuhan dan tantangan di atas, sudah saatnya kita bertindak secara komprehensif. Kesiapsiagaan yang dilakukan tidak cukup hanya menyiapkan tim reaksi cepat yang berpusat di Jawa untuk menjangkau seluruh pelosok, namun sangat penting menyiapkan kapasitas di setiap titik di negeri ini.

Sangat penting membuat setiap rumah sakit dan puskesmas menjadi tangguh –tidak rusak oleh segala bentuk bencana. Andaipun bangunannya terpaksa rusak, rumah sakit memiliki cadangan rumah sakit lapangan yang bisa digelar sebagai pengganti bangunan dan instalasi yang rusak tersebut di hari pertama kejadian, sehingga tidak ada kata terlambat untuk menolong masyarakat.

Jadi, perlukah rumah sakit lapangan? Kita bisa menjawab bahwa rumah sakit lapangan perlu sebagai fasilitas cadangan atau penyangga bagi setiap rumah sakit, khususnya rumah sakit rujukan di setiap daerah. Memang idealnya setiap rumah sakit rujukan di setiap daerah memiliki fasilitas lapangan, tidak semata-mata mengandalkan bantuan dari luar. Pada saat yang sama, kita perkuat tim penyelamat dari luar daerah sebagai tim pendukung kapasitas lokal, bisa berbentuk Tim Bedah Lapangan dengan tim mobile sebagai “tangan-nya, bisa juga rumah sakit lapangan lengkap, yang nantinya bisa dioperasionalisasikan sesuai keadaan, baik untuk misi nasional maupun internasional. Kombinasi keduanya, kapasitas lokal dan pusat, akan menjadikan sistem penyelamatan korban bencana berjalan lebih cepat dan optimal.

dr. Ahmad Muttaqin ‘Alim, Sp.An, EMDM relawan bencana, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Divisi Pendidikan dan Pelatihan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

(mmu/mmu)

Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-4271182/perlukah-rumah-sakit-lapangan-di-lokasi-bencana

Tentang Pernyataan Kiai Dahlan yang Dikaitkan dengan Bencana Alam

 

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Di berbagai akun media sosial, sempat tersebar pesan berantai yang diklaim berasal dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan. Pesannya berisi kutipan Kiai Ahmad Dahlan yang seolah mengaitkan bencana alam oleh sebab para pemimpin.

Sebaran yang diawali tulisan “PESAN KH. AHMAD DAHLAN 1 ABAD YANG LALU” tersebut menyatakan, “Perhatikanlah alam dan bangsamu, jika disuatu bangsa yang beriman, mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik, namun jika terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak pemimpin mu. Jika rusak pemimpin mu maka rusaklah tatanan masyarakat mu, mereka saling memfitnah, saling menghujat, saling mencela tak bisa terhindarkan, di saat itu Allah memberi peringatan bagimu dengan berupa musibah yang tiada henti.”

Pesan itu kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi kebangsaan hari ini. Masyarakat yang rusak sebagaimana pesan Kiai Dahlan itu dianggap terjadi pada saat ini karena ada banyak berita hoax yang saling memfitnah, menghujat, mencela. Saat seperti ini, maka Allah memberi peringatan dengan berbagai bencana alam tiada henti bagi bangsa Indonesia. Sebabnya, karena pemimpin bangsa atau presidennya dianggap telah rusak. Demikian di antara tafsiran yang berusaha disebarluaskan dengan mengatasnamakan pernyataan Kiai Dahlan.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Prof Yunahar Ilyas menegaskan pernyataan itu belum terverifikasi keluar dari mulut Kiai Ahmad Dahlan. Yunahar berpendapat, sepanjang pengetahuannya, belum ada tafsiran langsung yang mengaitkan bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi dengan seorang pemimpin yang rusak. Sebuah hadis riwayat Bukhari, dikutip Yunahar, soal kerusakan yang dikaitkan dengan kualitas pemimpin. Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad menyatakan jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Tetapi kehancuran yang dimaksud di sini adalah dalam artian luas. Tidak secara spesifik menyatakan bencana alam. Kerusakan atau kekacauan di semua bidang, menurut sunnatullah, terjadi ketika sesuatu tidak sebagaimana mestinya prinsip keharmonisan semesta.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa bencana alam bisa saja terjadi karena keadaan alam yang mengharuskan terjadinya pergerakan yang tidak seperti biasanya. Hal itu dapat dijelaskan menurut sains secara objektif. Sesuai jatah bentang alam, Indonesia harus menerima kodrat menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR). Dalam hal ini, meski manusia tidak bisa menolak musibah, tetapi resiko dari bencana bisa dikurangi dengan mitigasi.

Pernyataan yang Benar dari Kiai Dahlan dan Konteksnya

Dalam buku karya KRH Hadjid, Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an (2018), terbitan Suara Muhammadiyah, terdapat kutipan yang serupa. Kiai Hadjid merupakan salah satu murid dan sahabat dekat Kiai Dahlan yang banyak menulis dan mendokumendasikan gagasan pemikiran Kiai Dahlan. Pada halaman 59 buku tersebut, Kiai Hadjid mengutip pernyataan Kiai Dahlan sebagai berikut;

“Apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik, maka baiklah alam; dan apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu rusak, maka rusaklah alam dan negara (masyarakat dan negara).” Kalimat di dalam kurung seolah menegaskan bahwa alam yang dimaksud adalah alam sosial atau masyarakat.

Konteksnya, sebagaimana dijelaskan Kiai Hadjid, terjadi pada bulan Maulud tahun 1335 Hijriyah. Ketika itu, di hadapan para penghulu, ketib (khatib), ulama, kiai, dan tokoh agama di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kiai Dahlan menerangkan kitab Hidayatul Bidayah karangan Imam Ghozali, tentang kerusakan umat Islam dan sifat-sifat ulama suu’ (ulama yang busuk).

Kiai Dahlan lantas mengajak para pemuka agama yang hadir untuk melakukan instrospeksi diri. Tidak saling menuduh dan menunjuk tokoh agama selain dirinya sebagai ulama suu’ dan menganggap dirinya sendiri sebagai orang suci. Kiai Dahlan melanjutkan uraiannya dengan mengutip pernyataan Imam Ghozali, bahwa kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para raja atau pemimpin, dan kerusakan pemimpin adalah karena kerusakan ulama. Kerusakan ulama ini terjadi ketika ulama sudah menjilat dan tidak lagi berani memberi nasehat kepada pemimpin yang telah melenceng.

Kemudian, Kiai Dahlan mengajak para ulama dan pemuka agama yang hadir untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Seraya berdoa semoga dapat terus berbuat kebajikan di dalam agama Islam. Lantas Kiai Dahlan mengucapkan pernyataan itu. Sekali lagi, kiai Dahlan berbicara di hadapan pemuka agama supaya mereka sebagai pemimpin agama bisa memperbaiki diri dan masyarakatnya, termasuk di dalamnya memberi nasehat secara santun dan bijak kepada para pemimpin bangsa.

Kiai Hadjid ketika menjelaskan bagian ini menyatakan, “Kiai Dahlan mengajak untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengajak orang lain, atau sambil mengajak orang lain dan sambil memperbaiki masyarakat, mulai dari mendidik perseorangan serta membersihkan dirinya sendiri. Itulah cara yang dikerjakan oleh beberapa atau para rasul (yang ditiru oleh Kiai Dahlan).” (ribas)

Sumber:  http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/10/12/tentang-pernyataan-kiai-dahlan-yang-dikaitkan-dengan-bencana-alam/

Tim Kesehatan Muhammadiyah di Palu-Donggala: Diangkut Helikopter hingga Hidupkan Puskesmas

 

Beberapa menit mencekam di Donggala, Mamuju, Palu, dan Sigi. Pukul 19.02 WIT di Hari Jumat, 28 September 2018, Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan 7.4 SR. Pusat gempa berkedalaman 10 km tersebut berada di 0,18° LS dan 119,85° BT atau 27 km timur laut Donggala. Tak berselang lama, lindu berkekuatan 6,1 SR kembali mengguncang, dengan kedalaman 10 km tersebut berpusat di 58 km timur laut Donggala. Gempa itu disertai tsunami dan likuefaksi yang menelan lebih dari 1700 korban. Sekitar 62.359 menjadi pengungsi yang tersebar di 147 titik.

Didasari panggilan kemanusiaan, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu bergerak cepat. Wakil ketua MDMC, Arif Jamali Muis menyatakan bahwa respon pertama yang dilakukan adalah dengan mendirikan pos koordinasi (poskor) utama di gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah dan di gedung Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu di Jl. Jabal Nur no.1, kawasan Mantikulore, Talise, Palu.

Beberapa jam pasca kejadian, tim medis gabungan dari RS Pondok Kopi, RS Lamongan, RS Siti Khatijah Makassar, Tim RSIA Aisyah Pinrang dan RS Gombong segera diberangkatkan ke Sulawesi Tengah untuk membantu sesama, khususnya memberikan layanan kesehatan. Merawat mereka yang selamat dan terluka. Mereka dibantu oleh tim MDMC dari beberapa daerah. Turut serta tim asistensi yang melakukan serangkaian proses asesmen, pendataan dan pemetaan pasca bencana. Disusul kemudian tim yang membawa puluhan ton logistik yang dihimpun warga Muhammadiyah.

Para relawan dan tim lainnya terus berdatangan. Tim Medis dari MDMC Jawa Timur tiba pada Selasa (02/10/2018). Tim yang diawaki lima personil dari Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan ini langsung melayani pemeriksaan kesehatan para pengungsi. Layanan kesehatan dipusatkan di poskor utama. Termasuk prioritas layanan tim ini adalah terhadap ibu dan anak.

 

 

Tim lainnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara mobile atau keliling dari satu areal pengungsian ke areal lain dengan radius yang terjangkau dari posko medis utama. Hal ini dilakukan di tengah kondisi kurang terjaminnya keamanan dan keterbatsan transportasi dan kelangkaan BBM. Kadang, tim medis harus berjalan kaki dari pos ke pos untuk menemui para pengungsi. Di poskor utama disediakan ambulan jika sewaktu-waktu diperlukan untuk mengangkut pasien dalam keadaan gawat darurat.

Pemeriksaan kadang juga dilakukan secara darurat di alam terbuka, mengingat belum tersedianya tempat yang memadai untuk kegiatan layanan kesehatan. Tim Medis MDMC terus melakukan kegiatan pemeriksaan dan pelayanan optimal di tengah kondisi persediaan stok obat-obatan yang terbatas.

Salah seorang dokter Muhammadiyah, Willy menyebutkan, meski sudah hampir sepekan berselang pasca musibah terjadi, masih banyak korban selamat yang mengalami luka ringan maupun luka berat, justru belum mendapatkan layanan medis. Kondisi trauma dan keterbatasan akses juga menjadi kendala utama mereka untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

 

 

Hal ini diungkap Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto. Menurutnya, selama dua pekan diperuntukkan untuk masa tanggap darurat kesehatan. Targetnya adalah untuk mengevakuasi korban luka yang belum terjangkau layanan kesehatan. Sisa beberapa hari ini akan terus dimaksimalkan. Masih banyak korban dan pengungsi yang perlu segera ditangani.

Relawan medis dari RS Muhammadiyah Lamongan, dr Zuhdiyah Nihayati (akrab disapa dr Zee) mengungkapkan bahwa sampai saat ini, relawan medis dari MDMC Indonesia telah melayani ratusan pasien dengan berbagai macam keluhan medis. Mulai dari demam, batuk, pilek, nyeri, gatal-gatal, hingga diare. Serangan ISPA dan penyakit kulit perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, di antara penyebab munculnya berbagai gejala penyakit adalah karena cuaca ekstrem. Suhu panas pada siang hari dan suhu dingin di malam hari. Padahal mereka harus tinggal di tenda-tenda pengungsian dan kadang di tempat terbuka yang memudahkan penyebaran virus. Penyebab lainnya adalah karena keterbatasan sanitasi, air bersih, serta makanan bergizi, sehingga menyebabkan daya tahan tubuh pengungsi menurun dan rentan terserang penyakit.

 

 

Berdasar data Kemenkes RI, sebelum bencana terjadi, terdapat 50 puskesmas di Palu, Sigi, dan Donggala. Sebarannya masing-masing 13 puskesmas di Palu, 19 di Sigi, dan 18 di Donggala. Sejak musibah terjadi hingga seminggu kemudian, semua puskesmas terpaksa tutup dan belum bisa beroperasi. Para petugas medis ikut mengungsi dan menjadi korban. Sementara bangunan puskesmas juga banyak mengalami kerusakan.

Para relawan mencoba mengoperasikan kembali pusat layanan kesehatan. Tim medis Muhammadiyah berhasil menghidupkan kembali Puskesmas Talise di Kota Palu untuk memberikan layanan kesehatan kepada para pengungsi. Tim medis ini terdiri dari dr Willy, dr Ershad A Manggala, dr Sylvi, dr Abdi Hidayat, Munajat, Muharman, Syafii.

 

 

Sementara itu, guna mencapai titik-titik terisolir yang belum terjangkau akses darat, tim SAR TNI pada Sabtu (06/09/2018) juga meminta Tim Medis MDMC untuk ikut serta dalam memberikan layanan kesehatan menggunakan helikopter TNI AU. Seminggu pasca gempa, tujuh kecamatan di Kabupaten Sigi masih terisolasi. Pasokan listrik dan BBM belum sepenuhnya pulih.

Di saat bersamaan, Muhammadiyah di seluruh Indonesia terus melakukan penggalangan bantuan dana hingga logistik. Tim Medis MDMC tidak hanya dari pulau Jawa dan Sulawesi, bahkan terdapat tim dari MDMC Lhokseumawe Aceh. Mereka berada di bawah koordinasi One Muhammadiyah One Response.

Selain tim tanggap darurat, pada tahap selanjutnya, Muhammadiyah juga menyiapkan tim psikososial yang akan melakukan pendampingan pada para korban secara berkelanjutan dalam tahap rehabilitisi dan rekonstruksi. Langkah ini dilakukan dalam upaya mengurangi dampak trauma dan pemulihan mental (trauma healing) parakorban pasca bencana.

Melihat meningkatnya kebutuhan, yang berkonsekuensi pada meluasnya area yang membutuhkan bantuan dan pendampingan, Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MDMC) mengerahkan bantuan dalam intensitas besar dari berbagai potensi Muhammadiyah di Indonesia.

“Penjadwalan, pemberangkatan, pelaksanaan kegiatan, dan pengakhiran kegiatan relawan dari Muhammadiyah semua di bawah koordinasi Lembaga Penangulangan Bencana PP Muhammadiyah dan Pos Koordinasi Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Dengan semangat One Muhammadiyah One Response, diharapkan tercapai proses penanggulangan bencana yang terkelola dengan baik, efisien, efektif, akuntable, dan bisa mendampingi warga terdampak hingga masa pemulihan/rehabilitasi – rekonstruksi.” Demikian di antara pernyataan Surat Edaran One Muhammadiyah One Response, bernomor 427/I.16/H/2018, yang ditandatangani oleh ketua dan sekretaris LPB, Budi Setiawan dan Arif Nur Kholis.

Tak hanya itu, sebagai bentuk perhatian atas bencana yang menimpa, maka Majelis Dikdasmen Sulawesi Tengah menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah/madrasah/pondok pesantren Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di semua tingkat satuan pendidikan untuk menerima siswa pindahan dari korban tsunami Palu Donggala, diberikan kemudahan, di semua jenjang pendidikan mulai SD sampai SMA. Dalam kesempatan yang sama, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, menerbitkan surat edaran kepada pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) untuk membantu para mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiyah Palu yang sedang meninggalkan kota Palu ke daerah lain di Indonesia untuk difasilitasi dan diizinkan mengikuti kuliah secara sit in. Bahkan, Universitas Muhammadiyah Purworejo menerima korban gempa secara umum untuk dikuliahkan secara gratis. (ribas)

Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/10/08/tim-kesehatan-muhammadiyah-di-palu-donggala-diangkut-helikopter-hingga-hidupkan-puskesmas/

 

Haedar Nashir: Penyebab Bencana Mutlak Tidak Karena Kemaksiatan!

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Sesuai dengan bentang alam, Indonesia harus menerima kodrat menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR).

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa Indonesia sudah seharusnya meningkatkan mitigasi bencana. “Dalam menyikapi bencana, masyarakat harus memiliki keilmuan dan pengetahuan yang cukup untuk meminimalisir dampak bencana,” tuturnya.

Haedar mengingatkan untuk tidak melakukan penghakiman, bahwa semua bencana dikarenakan oleh sebab maksiat. Hal itu justru sangat melukai perasaan para korban yang terkena dampak bencana. “Fenomena gempa bumi yang terjadi di berbagai belahan daerah Indonesia, tidak harus ditanggapi dengan pemahaman bahwa penyebab mutlak karena ulah kemaksiatan manusia,” ungkapnya.

Maksiat tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya penyebab bencana. Menurut Haedar, ada dua penyebab fenomena alam itu, pertama, memang karena keadaan alam yang mengharuskan terjadinya pergerakan yang tidak seperti biasanya. Kedua, karena perbuatan manusia. Namun demikian, kedua-duanya tidak terlepas dari sunnatullah.

Terkait dengan runtutan bencana alam yang terjadi, kata Haedar, harusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan empati, kebersatuan dan kepekaan atas dasar kemanusiaan. “Bukan melakukan penghakiman sepihak, mengeluarkan statement yang semakin membuat gaduh. Dengan menyimpulkan sebab tunggal dari bencana yang terjadi adalah dari kemaksiatan manusia di daerah yang terdampak bencana tersebut,” katanya.

Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah semestinya memiliki panduan kebencanaan dalam perspektif Islam. Dalam hal ini, Muhammadiyah telah merumuskan Fikih Kebencanaan. “Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, maka diperlukan adanya panduan kebencanaan, maka Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih telah merumuskan fikih kebencanaan,” pungkas Haedar Nashir.

Panduan Fikih Kebencanaan itu memberi perspektif bahwa bencana juga bagian dari kasih sayang Allah. Ketika terjadi bencana, manusia harus menerima dengan ridha disertai upaya untuk bangkit kembali. Manusia memang tidak mampu menolak takdir bencana, tetapi bisa untuk meminimalisir dampaknya. Dengan bekal pengetahuan, manusia bisa melakukan mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. (ribas)

Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/10/06/haedar-nashir-penyebab-bencana-tidak-mutlak-karena-kemaksiatan/

Universitas Muhammadiyah Purwokerto Gratiskan Biaya Kuliah Bagi Mahasiswa Korban Gempa dan Tsunami Palu

Universitas Muhammadiyah Purwokerto Gratiskan Biaya Kuliah Bagi Mahasiswa Korban Gempa dan Tsunami Palu

MUHAMMADIYAH.OR.ID, PURWOKERTO – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah siap tampung mahasiswa yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor UMP Syamsuhadi Irsyad, ia mengungkapkan adanya gempa dan tsunami membuat segenap civitas akademika UMP simpatik dan memiliki keprihatinan yang tinggi. Maka dari itu, segenap jajaran telah menyiapkan diri untuk menampung mahasiswa dari Palu.

“Para mahasiswa yang selama ini menempuh pendidikan di sana (red, Palu), bisa melanjutkan pendidikannya di UMP. Sebab bencana gempa bumi dan tsunami membuat perkuliahan tidak bisa dilanjutkan hingga batas waktu tertentu. Maka dari itu, UMP siap menampung semua mahasiswa korban gempa dan tsunami di Palu,” terang Rektor, Kamis (4/10/2018).

Belum cukup sampai disitu, lebih lanjut Syamsuhadi Irsyadjuga menjelaskan, selain UMP siap menampung para mahasiswa itu, juga para mahasiswa terdampak Gempa dan Tsunami Palu akan digratiskan kuliah di UMP.

“Selama menjalani perkuliahan di UMP. Nantinya, para mahasiswa yang terdampak tidak dikenakan biaya sepeserpun. Bahkan akan kita sediakan uang saku untuk mereka. Namun, uang saku itu hanya diperuntukan bagi mereka yang benar-benar kekurangan dana,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Anjar Nugroho menjelaskan, para mahasiswa terdampak yang meninggalkan Palu dan berada di kota lain bisa mengikuti kuliah Sit In di Prodi yang relevan dan mata kuliah yang sesuai di UMP.

“Untuk mekanismenya, mahasiswa bisa menghubungi ke rektorat sembari menunjukkan kartu tanda pengenalnya,” tandasnya.

Lebih lanjut Dr. Anjar mengungkapkan bagi mahasiswa UMP asal Palu dan Donggala yang keluarganya terdampak bencana, dapat mengajukan keringanan biaya uang kuliah.

“Untuk mahasiswa asal Palu yang kuliah di UMP jika memang keluarganya menjadi korban bencana tersebut, bisa untuk mengajukan keringanan biaya uang kuliah,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kerja sama, Al Islam dan Kemuhammadiyahan, Jebul Suroso menambahkan sebelumnya UMP juga turut membantu meringankan beban korban atas bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, NTB.

“UMP mengirimkan Relawan Tim Psikososial untuk membantu penanganan pasca gempa di Lombok. UMP mengirimkan sebanyak delapan relawan waktu itu. Kita kirimkan mahasiswa yang telah memiliki pengalaman dalam menangani kejadian pasca bencana. Mereka waktu itu membantu memulihkan korban bencana seperti perbaikan mental,” pungkasnya. (tgr/humas UMP)

Sumber: http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-14937-detail-um-purwokerto-gratiskan-biaya-kuliah-bagi-mahasiswa-korban-gempa-dan-tsunami-palu.html

Haedar: Masyarakat Jangan Mudah Melakukan Penghakiman Sepihak dalam Menyikapi Suatu Bencana

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Rangkaian beruntun kejadian bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini, menyita banyak perhatian. Kesemua ini merupakan takdir yang tidak bisa dielakkan, karena memang Indonesia berada di kawasan rawan bencana. Fakta tersebut harus bisa disikapi dengan bijak. Terkait dengan runtutan bencana alam yang terjadi, harusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan empati, kebersatuan dan kepekaan atas dasar kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir saat memberi kultum ba’da sholat dhuhur pada karyawan Kantor PP Muhammadiyah Jl. Cikditiro, Kamis (4/10).

Lebih lanjut Haedar menjelaskan, sudah menjadi sunnatullah, Indonesia berada di atas pertemuan lempeng bumi, yang mengharuskan masyarakatnya memiliki kesiapsiagaan dalam kebencanaan.

“Sebagai Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Maka, diperlukann adanya panduan kebencanaan yang berasas dari al Qur’an dan Sunnah. Sehingga dalam diskurusus itu Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih merumuskan Fiqih Kebencanaan,” terang Haedar.

Fenomena gempa bumi yang terjadi di berbagai belahan daerah Indonesia, tidak harus ditanggapi dengan pemahaman bahwa penyebab mutlak karena ulah kemaksiatan manusia.

“Maksiat tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya penyebab bencana,” ucap Haedar menerangkan, di dalam al Qur’an setidaknya ada dua jenis penyebab kejadian fenomena alam. Pertama, memang karena keadaan alam yang mengharuskan terjadinya pergerakan yang tidak seperti biasanya. Kedua, karena perbuatan manusia. Namun demikian, kedua-duanya tidak terlepas dari Sunnatullah.

Sehingga dari segala kemungkinan tersebut, manusia memang harus menjaga ekosistem alam. Karena alam juga akan merespon perilaku manusia terhadapnya. Haedar mencontohkan dengan perbuatan orang yang membuang sampah sembarangan akan menganggu ekosistem dan bisa menyebabkan banjir, jika sampah itu menumpuk di jalur air.

Maka dalam menyikapi bencana, manusia Indonesia harus memiliki keilmuan dan pengetahuan yang cukup untuk meminimalisir dampak bencana. Bukan melakukan penghakiman sepihak, mengeluarkan statement yang semakin membuat gaduh. Dengan menyimpulkan sebab tunggal dari bencana yang terjadi adalah dari kemaksiatan manusia di daerah yang terdampak bencana tersebut. (A’n)

Sumber: http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-14935-detail-haedar-masyarakat-jangan-mudah-melakukan-penghakiman-sepihak-dalam-menyikapi-suatu-bencana.html

Kita Diuji Bencana, Malah Sibuk Menafsir Bencana

Oleh: Irfan Amalee, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah

Kita pasti semua sedih dan terguncang dengan bencana yang datang berturut-turut menimpa negeri ini. Tapi cara sebagian kecil orang di negeri ini menanggapi bencana ini kadang membuat saya lebih sedih.

Di sosial media dan WA Group beredar postingan yang menafsirkan gempa di Palu sebagai pembalasan Tuhan atas ditetapkannya seorang tokoh Muslim menjadi tersangka. Tafsir bencana ini juga muncul dari umat kristiani, gempa Palu sebagai disebut-sebut sebagai balasan kontan dari Tuhan atas penyegelan gereja.

Itu adalah dua dari sekian banyak narasi yang beredar seputar bencana. Bukan hanya bencana Palu ini. Saya mengamati hal serupa muncul hampir pada setiap bencana, dari tsunami Aceh, tsunami pangandaran, banjir Garut, gempa Lombok sampai terakhir gempa dan tsunami Palu.

Menurut pengamatan saya yang terbatas, setidaknya selalu ada 3 narasi yang selalu muncul setiap bencana terjadi:

  1. Menghukum korban: Saat bencana terjadi, bukannya berempati, kita malah menjatuhkan vonis pada korban bencana dengan ungkapan “daerah itu layak mendapat bencana karena banyak maksiat”. Ungkapan ini bisanya dibumbui dengan cerita-cerita yang berusaha menguatkan asumsi itu. Saat tsunami Aceh terjadi, rekan saya yang warga negara asing langsung tergerak menjadi relawan. Namun tetangganya yang warga negara Indonesia terlihat sama sekali tidak tergerak karena menganggap bencana itu adalah hukuman. Bencana yang seharusnya menjadi sarana berempati, menjadi ajang menghukum.
  2. Menghubungkan bencana dengan event sosial atau politik. Inilah hobi kita dalam cocokologi, mencocok-cocokkan suatu hal dengan hal lain. Dengan dalil “tak ada yang kebetulan di dunia ini” kita dengan mudah mencocok-cocokkan fenomena alam dengan berbagai peristiwa. Maka setiap orang punya tafsirnya sendiri-sendiri sesuai dengan preferensi, kepentingan dan identitasnya. Dan mereka menganggap tafsir mereka adalah tafsir paling benar. Bencana yang seharusnya membuat kita merenung, malah menjadi ajang lomba menafsir.
  3. Isu bendera di pasca bencana. Kerja kemanusiaan di wilayah bencana adalah kerja mulia. Namun selalu ada cerita-cerita menarik di dalamnya. Salah satunya adalah kontestasi bendera. Satu pihak menafsirkan suatu bantuan sebagai pencitraan. Pihak lain membanggakan suatu kelompok relawan sejati yang tak gila promosi. Kabar kristenisasi juga sering muncul dan jadi pembicaraan. Bencana sebagai wahana mempersatukan kemanusiaan menjadi pembicaraan sektarian.

Fiqih Bencana

PP Muhammadiyah membuat rumusan Fiqih Bencana yang menurut saya sangat pas bagaimana kita sebagai umat islam melihat bencana. Sehingga kita tidak terjebak dalam tiga narasi di atas.

Fiqih kebencanaan merupakan panduan kita untuk MEMANDANG dan MENYIKAPI bencana sesuai dengan semangat Quran dan hadits. Cara memandang terbagi kepada dua yaitu teologis dan sosiologis. Sedangkan cara menyikapi terbagi kepada tiga yaitu etis, antisipatif dan teknis.

Cara memandang bencana secara telogis:

  1. Allah Maha Kasih & Sayang (rahmah) dan Maha Baik (QS. 6:54), maka apapun yang diberikan manusia selalu baik dan penuh kasih
  2. Begitu sebaliknya, manusia yang memahami dengan baik “hakikat” bencana akan mempersepsibencana sebagai sebuah kebaikan (QS. 16:30); menjadi sarana meningkatkan kualitas iman.
  3. Bencana bukan merupakan bentuk amarah dan ketidakadilan Allah kepada manusia;
  4. Sebaliknya bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (rahmah) Allah kepada manusia, yakni sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri.

Cara memandang bencana secara sosiologis

  1. Memahami peran manusia terhadap alam sebagai khalifah, menjaga kelestarian relasi dengan alam dan sesama manusia
  2. Memiliki vision (wawasan): Interspatial vision: Muslim harus mengetahui dan memahami apa yang berlaku di tempat lain, baik dalam arti perbedaan kota, negara atau kawasan, Intertemporal vision: Muslim harus memiliki perencanaan yang kuat terhadap apa yang akan dia lakukan dalam rangka mengumpulkan bekal untuk hari depan

Cara menyikapi bencana secara etis:

  1. Sabar: menyikapi bencana dengan 3 cara: Hati: memahami bahwa seluruh peristiwa adalah kehendak Allah, 2. Lisan: tarji’, 3. Perbuatan: usaha untuk menuju kebaikan setelah bencana terjadi; dan usaha membuat kebaikan-kebaikan jauh sebelum musibah keburukan terjadi
  2. Syukur: menyikapi bencana dengan positive thinking & action akan kebaikan di balik setiap peristiwa

Cara menyikapi bencana secara preventif

Mitigasi dan Kesiapsiagaan terhadap Bencana (QS. Yusuf: 47-49). 1. Tanggap darurat: menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia, mengurangi penderitaan korban bencana, dan meminimalkan kerugian material (QS. Al-Maidah: 32), Recovery, Rehabilitasi: perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik sampai tingkat yang memadai, Rekonstruksi: pembangunan kembali semua prasarana dan sarana.

Cara menyikapi bencana secara teknis:

  1. Mitigasi& kesiapsiagaan
  2. Tanggap darurat
  3. Recovery
  4. Pemenuhan Hak Korban
  5. Teknis Ibadah pada Saat Bencana
  6. Penanganan Penyalahgunaan Bantuan

Jika kita bekerja keras fokus menerapkan fiqih bencana ini maka tak ada waktu lagi untuk menafsir bencana dan dengan cocokologi.

Jepang selalu menjadi contoh praktik baik untuk implementasi fiqih bencana ini. Meski mereka tak mengenal fiqih bencana, mereka adalah negara yang serius mengajar anak-anaknya untuk siaga bencana. Bukan hanya secara teknis, tapi etis. Saya terkesan saat membaca sebuah artikel tenang bagaimana para pengungsi tetap rapi dan antri saat menerima bantuan pangan. Bahkan di situasi darurat seperti itu, mereka masih sempat itsar (mendahulukan orang lain).

Bencana datang dengan wajah yang netral. Sikap kita lah yang menentukan apakah itu jadi rahmah atau musibah.

Catatan:

  • Di bawah ini dua video dokumentasi program Sekolah CERDAS (Ceria, Damai, Siaga Bencana) Program yang diinisasi oleh Peace Gen Indonesia bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan didukung oleh Lazismu Pusat. Pada tahun 2017 program ini membantu 20 sekolah di Jawa Tengah untuk menjadi sekolah yang aman siaga dari bencana alam dan sosial (konflik dan kekerasan). tahun 2018 Sekolah Cerdas berlanjut di 5 provinsi menargetkan 100 sekolah.

video 1: https://www.youtube.com/watch?v=LzcZ449s4jE

video 2: https://www.youtube.com/watch?v=AoNPDDGZxng

 

Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2018/10/03/kita-diuji-bencana-malah-sibuk-menafsir-bencana/

Steun Comite Keloed dan PKO, Embrio Program Tanggap Bencana di Muhammadiyah

[islamberkemajuan.id] Tengah malam pada tanggal 20 Mei 1919, bencana besar datang dari Blitar, Jawa Timur. Letusan dahsyat Gunung Kelud telah merusak perumahan penduduk di kota Blitar. Diperkirakan letusan gunung terdahsyat di awal abad ke-20 tersebut telah menelan korban 5.000 orang. Begitu dahsyatnya letusan gunung Kelud sampai terdengar di Kalimantan. Hujan abu yang lebat mencapai Pulau Bali. Demikian seperti dilansir www.bbc.com (2014). Respon pemerintah dan masyarakat pribumi atas bencana alam yang sangat dahsyat tersebut sangat beragam. Di Yogyakarta, sebuah comite dibentuk dalam rangka menggalang dana, bantuan logistik, dan medis untuk menolong para korban bencana letusan gunung Kelud di Blitar. Steun Comite Keloed bekerjasama dengan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah pada tahun 1919 berhasil menghimpun dana dari masyarakat, bantuan logistik, tenaga medis dan obat-obatan yang akan dikirim ke Blitar.

 

Steun Comite Keloed dan PKO

Dalam “Verslag openbare vergadering P.K.O.” (lihat Soewara Moehammadijah October 1923 Tahooen 4) dilaporkan bahwa Hoofdbestur Muhammadiyah Bagian PKO telah menggelar rapat (vergadering) di Lodge Malioboro (sekarang Gedung Agung) pada tanggal 25 Agustus 1923. Rapat dihadiri 500 orang. Mewakili pemerintah kolonial dr. Offringa dan dr. John. Beberapa tokoh Tionghoa disebutkan turut hadir dalam rapat tersebut. Adapun para jurnalis media massa yang hadir seperti utusan Soerabaia Handelsblad, Boedi Oetomo, Pewarta Soerabaia, Sin Po, Perniagaan, Djawa Tengah, Bintang Islam, Soewara Moehammadijah, dan Centraal Tiong Hwa. Selebihnya, peserta vergadering adalah para anggota dan pengurus Muhammadiyah, terutama dari Bagian PKO.

Haji Syujak, voorzitter PKO, berpidato menerangkan asas gerakan. “Perkoempoelan P.K.O. itoe bahagian Moehammadijah jang berdasarkan agama Islam. Dalam agama Islam adalah lima perkara koeadjiban, lain dari pada itoe masih ada poela jang kita kaoem Islam haroes mengerdjakan itoe, seperti jang terseboet dalam soerat Ma’oen, itoelah jang mendjadi sendi perkoempoelan P.K.O.”

Setelah menyampaikan asas gerakan, Haji Syujak mengisahkan awal mula terbentuk gerakan PKO Muhammadiyah. Salah satu penanda yang dapat digunakan untuk melacak sejarah berdirinya PKO adalah peristiwa letusan Gunung Kelud pada tahun 1919, tepatnya pada tanggal 20 Mei. Dampak letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 begitu parah sehingga menelan banyak korban. Selain korban nyawa, hampir seluruh gedung dan rumah penduduk di kota Blitar mengalami kerusakan parah. Dengan spirit teologi al-Ma’un, Haji Syujak dan pengurus Bagian PKO menggalang dana dan kebutuhan logistik serta peralatan medis untuk menolong korban bencana alam tersebut.

Sebagaimana dikisahkan oleh Haji Syujak, Bagian PKO bekerjasama dengan Steun Comite Keloed yang berhasil menghimpun dana yang cukup untuk dikirimkan ke Blitar. Tidak hanya itu, kolaborasi Bagian PKO dengan Steun Comite Keloed juga berhasil mengumpulkan sumbangan logistik, obat-obatan, dan berhasil membentuk tim medis yang akan dikirim ke Jawa Timur. Meskipun tidak disebutkan berapa besar dana yang berhasil dihimpun, juga apa saja sumbangan logistik yang telah disiapkan, tetapi kolaborasi antara Bagian PKO dengan Steun Comite Keloed dapat dikatakan sukses.

Perlu dicatat, menurut versi bbc.com., letusan Gunung Kelud pada 20 Mei 1919 merupakan bencana terdahyat di awal abad ke-20. Dampak kerusakan yang begitu parah dan korban yang sangat banyak telah menarik simpati dan juga empati dari kaum bumiputra di berbagai daerah. Konon, bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai daerah, bahkan dari luar pulau Jawa. Karena sudah banyak bantuan kemanusiaan yang mengalir ke Blitar, seperti yang dikisahkan Haji Syujak, maka bantuan kemanusiaan yang berhasil dihimpun oleh Bagian PKO dan Steun Comite Keloed tidak jadi didistribusikan. Resident Yogyakarta menyarankan agar bantuan kemanusiaan tersebut untuk menolong kesusahan penduduk di Yogyakarta. Karena terikat oleh kebijakan ini, maka maksud utama memberikan bantuan kemanusiaan kepada para korban letusan Gunung Kelud tidak pernah terwujud.

Namun pasca peristiwa ini, Bagian PKO kembali menyusun program-program strategis berikutnya, seperti penyelenggaraan pasar malam (penggalangan dana), menolong dan mengurus orang mati yang terlantar di rumah dan di jalan, mengatur distribusi zakat, dan mendirikan poliklinik. Seorang dokter berkebangsaan Belanda menaruh simpati kepada usaha yang dilakukan Bagian PKO Muhammadiyah. Dialah dokter Royen yang menyatakan bersedia bergabung ketika Haji Syujak dan kawan-kawan mendirikan Poliklinik. Dokter Royen inilah yang sedianya akan diangkat sebagai dokter pertama di Poliklinik PKO Muhammadiyah. Namun atas permintaan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dokter Royen diangkat sebagai Hofarts, sehingga tidak jadi bergabung di Poliklinik PKO Muhammadiyah. Tetapi pada tahun 1923, seorang dokter bumiputra bernama Somowidagdo menyatakan bergabung dan menjadi dokter pertama di Poliklinik PKO Muhammadiyah.

 

Embrio MDMC
Membaca sejarah PKO versi “Verslag openbare vergadering P.K.O.” yang dimuat di Soewara Moehammadijah edisi Oktober 1923 memberi banyak informasi baru, terutama berkaitan dengan sejarah dan dasar-dasar gerakan PKO, serta program pertama bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam. Jika saat ini Muhammadiyah telah memiliki Lembaga Penanggulangan Bencana (dibentuk 2007) yang pada muktamar 2010 dikukuhkan menjadi Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), maka sebenarnya program ini memiliki matarantai yang nyaris terputus ketika Bagian PKO berkolaborasi dengan Steun Comite Keloed pada tahun 1919 untuk menggalang dana kemanusiaan bagi korban bencana alam di Blitar. Meskipun peran mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan rehabilitasi kebencanaan pasca pembubaran Steun Comite Keloed tetap dilaksanakan oleh Bagian PKO, terutama lewat peran Poliklinik PKO (sekarang RS PKU Muhammadiyah), tetapi dalam praktiknya tidak secara maksimal.

Steun Comite Keloed dan PKO merupakan embrio bagi gerakan MDMC saat ini. Ketika MDMC merumuskan visi “berkembangnya fungsi dan system penanggulangan bencana yang unggul dan berbasis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kemajuan hidup masyarakat yang sadar dan tangguh terhadap bencana serta mampu memulihkan korban bencana secara cepat dan bermartabat” (lihat www.mdmc.or.id), maka catatan sejarah di atas telah mengokohkan dan sekaligus memantapkan pondasi gerakan ini. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa para pengurus MDMC saat ini adalah ‘anak-anak revolusi’ al-Ma’un yang hadir di era millennial. [Mu’arif]

 

Sumber: https://islamberkemajuan.id/steun-comite-keloed-dan-pko-embrio-program-tanggap-bencana-di-muhammadiyah/?fbclid=IwAR1AZIq38b5b5K3xra8E-8jKJGH3DZfUSMHQ27H5cofe7_R_5hV79Ljq6wQ

 

Manajemen Bencana Para Nabi

Nabi Nuh sangat dikenal dengan mukjizatnya yang tahu akan terjadi banjir katastrofe yang menelan sebagian besar belahan bumi. Nabi Nuh beserta umat dan fauna pengikutnya selamat dari bencana air bah dengan cara membangun bahtera yang bahkan dianggap sebagai perbuatan gila oleh umatnya. Pembuatan bahtera ini langkah persiapan yang dalam dunia kebencanaan disebut disaster preparedness.

Bisa dipahami dengan usianya yang hampir 1.000 tahun, Nabi Nuh memiliki pengalaman luar biasa banyak dalam berinteraksi dengan alam. Sangat mungkin Nabi Nuh mengalami beberapa kali tsunami atau bencana lain dan menjadi tahu gejala alam yang mendahuluinya. Allah SWT memberikan kemampuan Nabi Nuh menyusun pengalamannya menjadi pengetahuan kealaman yang jauh melampaui orang-orang di sekitarnya.

Hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah kita harus mampu memahami bahasa alam dan menyesuaikan dengan siklusnya. Dengan itu, kita mampu beradaptasi dan mempersiapkan diri dengan baik bila terjadi kondisi alamiah, seperti gempa dan tsunami.

[inset side=”left” title=””] Hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah kita harus mampu memahami bahasa alam dan menyesuaikan dengan siklusnya. Dengan itu, kita mampu beradaptasi dan mempersiapkan diri dengan baik bila terjadi kondisi alamiah, seperti gempa dan tsunami [/inset]Dengan metodologi dan teknologi mutakhir, kita tak perlu hidup 1.000 tahun untuk merangkum pengalaman ribuan tahun kebencanaan. Hal itu dapat kita pelajari melalui gadget di genggaman kita meskipun tentu tidak bisa menyamai pengetahuan profetik Nabi Nuh. Setidaknya, kita bisa belajar disaster preparedness ini seperti Nabi Nuh.

Kita juga tahu kisah bagaimana Nabi Ibrahim berani meninggalkan Hajar bersama Ismail kecil di tengah padang pasir tandus yang bagi orang biasa adalah tindakan bunuh diri. Keberanian ini terwujud bersama keteguhan hati dan semangat bertahan hidup Hajar, berlari bolak-balik dari Bukit Shafa ke Marwa mencari air yang kemudian menjadi ritus haji. Atas keimanan dan usahanya yang luar biasa, Allah SWT menolong mereka.

Dari kisah ini kita bisa belajar mengenai life survival, semangat dan kemampuan bertahan hidup, lalu pulih dari kondisi krisis secepat mungkin. Ini sangat penting bagi masyarakat yang terdampak bencana. Bagaimana masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah bisa pulih cepat pascagempa, salah satunya karena memiliki semangat hidup dan kemampuan memanfaatkan sekitarnya untuk bertahan hidup.

Salah satu tahap dalam pengurangan risiko bencana adalah bagaimana mengelola atau memodifikasi hazard (ancaman dan potensi bahaya). Ini adalah bagaimana mengubah bahaya yang ada agar menjadi tidak berbahaya.

Contoh, bahaya keruwetan lalu lintas dimodifikasi dengan rambu-rambu agar risiko kecelakaan berkurang. Kanal-kanal air dibuat untuk mengurangi risiko banjir. Contoh tersebut pernah dilakukan pada zaman Nabi Musa yang dengan mukjizat mampu membelah laut; dimodifikasi menjadi jalan tol. Nah, meskipun tidak secanggih mukjizat Nabi, kita punya potensi untuk memodifikasi bahaya di sekitar kita guna mengurangi risiko bencana.[inset side=”right” title=””] Beralih ke kisah Nabi Yusuf, selain ketampanannya, hal yang bisa kita pelajari adalah kemampuannya memprediksikan apa yang akan terjadi. Ketika itu, Nabi Yusuf memberitahukan kepada raja bahwa akan terjadi kemarau panjang.[/inset]

Kita tentu juga tahu kisah Nabi Ayyub yang mengalami penderitaan bertubi-tubi; kebangkrutan, kematian anak-anaknya, kemudian sakit parah dan kronis. Kulitnya membusuk, bernanah dan bau yang membuat keluarga meninggalkannya.

Namun, ternyata Nabi Ayyub tetap mampu menerima keadaan dengan ikhlas hingga semua penderitaannya berakhir. Mukjizat Nabi Ayyub adalah absorbing capacity; kemampuan menerima beban, terus bertahan tanpa menjadi kolaps.

Kalau kapasitas Nabi Ayyub sudah pada level bertahan dalam kondisi “kerusakan”, aplikasi absorbing capacity bisa pada level bertahan untuk tidak rusak. Misalnya, sebuah rumah dikatakan memiliki absorbing capacity yang baik terhadap gempa ketika mampu tetap kokoh meski diguncang gempa. Dalam dunia kebencanaan, absorbing capacity sangat penting. Makin tinggi nilainya, makin tangguhlah sebuah masyarakat.

Beralih ke kisah Nabi Yusuf, selain ketampanannya, hal yang bisa kita pelajari adalah kemampuannya memprediksikan apa yang akan terjadi. Ketika itu, Nabi Yusuf memberitahukan kepada raja bahwa akan terjadi kemarau panjang.

Bila tidak bertindak, kerajaan akan mengalami paceklik parah. Akhirnya, diputuskan melakukan efisiensi dan membuat lumbung cadangan. Dengan lumbung cadangan itu, kerajaan selamat dari paceklik meski kemarau panjang tetap terjadi.

Dalam manajemen bencana, hal ini disebut sebagai buffering capacity atau kapasitas cadangan. Artinya, meskipun terjadi kerusakan karena bencana, fungsi kehidupan masih berjalan. Sebagai contoh, meskipun rumah rusak karena gempa, masyarakat masih tetap bisa bertempat tinggal karena memiliki tenda cadangan, masih bisa makan karena punya lumbung cadangan.

Pada titik kritis sebuah insiden atau bencana, nyawa terancam, dibutuhkan kemampuan penyelamatan jiwa (life saving). Dalam hal itu, kita teringat mukjizat Nabi Isa yang mampu menyembuhkan penyakit, bahkan menghidupkan orang mati. Dalam bahasa sekarang, ini kemampuan treatment pasien yang puncaknya mengembalikan denyut jantung yang berhenti dengan teknik cardio-pulmonal rescucitation (CPR).

Di negara maju, masyarakat dilatih basic life support dan first aid atau pertolongan pertama. Ini menjadi kebijakan nasional. Dengan ini, masyarakat mampu memberi pertolongan dengan benar pada setiap kejadian darurat.

Kebijakan ini sangat penting dalam bencana. Dengan kemampuan menolong, masyarakat tidak lagi terlalu mengandalkan bantuan luar, bisa menolong secara mandiri pada batas tertentu. Ini adalah kapasitas penanganan bencana yang disebut life saving dan local response capacity.

Semua hal tersebut harus dilakukan secara masif dan sistemis agar semua komponen masyarakat menjadi tangguh bencana. Tentu, semua itu harus dilakukan bersama penataan dan pengelolaan masyarakat, social management.

Untuk hal ini, kita ingat bagaimana kehebatan Nabi Muhammad SAW dalam melakukannya. Beliau mampu menata masyarakat jahiliyah dan membangunnya menjadi masyarakat yang berketuhanan dan berkeadaban. Ini adalah mukjizat sosial luar biasa dan patut diambil pelajaran untuk menata bangsa ini menjadi tangguh bencana.

Pada Ramadhan yang penuh nuansa religi ini, sudah selayaknya kita menengok kembali khazanah kenabian yang sangat kaya hikmah. Salah satunya, bagaimana kita menjadikan bangsa ini menjadi tangguh bencana. Semoga, kita diberi Allah SWT kemampuan untuk mengambil hikmah dari para nabi ini.
[div class=”doc” class2=”typo-icon”] Ahmad Muttaqin Alim    
Koordinator Divisi Diklat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Alumnus European Master in Disaster Medicine. Dimuat oleh harian Republika, Kamis, 23 Juni 2016 [/div]

{fcomment}