MDMC Evaluasi Pendampingan Perempuan dan Anak Pascabencana Sumatera guna Perkuat Layanan Kelompok Rentan

MDMC Evaluasi Pendampingan Perempuan dan Anak Pascabencana Sumatera guna Perkuat Layanan Kelompok Rentan

Banda Aceh, 24 September 2026 – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama mitra terkait mengikuti Pertemuan Pembelajaran, Diseminasi Evaluasi, dan Penyusunan Rekomendasi Pendampingan Transisi ke Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sumatera yang meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kamis (24/9).

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melalui Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan ini menjadi ruang untuk mendokumentasikan pembelajaran, mengevaluasi capaian dan tantangan pendampingan kemanusiaan, serta menyusun rekomendasi bagi keberlanjutan layanan dalam masa transisi dari tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November hingga Desember 2025 berdampak pada masyarakat dan sejumlah fasilitas pelayanan publik di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi tersebut turut memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan reproduksi serta mekanisme pencegahan dan penanganan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) terhadap perempuan dan anak.

Ketua MDMC PP Muhammadiyah, H. Budi Setiawan, S.T., mengatakan bahwa selama beberapa bulan MDMC bersama Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah, UNFPA, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak terdampak bencana di Sumatera.

“Selama beberapa bulan MDMC dan MPKU Muhammadiyah bersama UNFPA, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban bencana di Sumatera, khususnya dalam perlindungan perempuan dan anak serta kesehatan reproduksi,” ujar Budi.

Menurutnya, evaluasi menjadi bagian penting untuk melihat capaian pendampingan sekaligus mendengarkan laporan dari pemerintah daerah di tiga provinsi terkait kondisi dan tindak lanjut penanganan pascabencana.

“Dari evaluasi ini diharapkan kita dapat memberikan semacam template untuk kegiatan-kegiatan ataupun penanganan bencana yang lain. Kelompok rentan memang perlu menjadi perhatian dalam pelaporan maupun dalam penanganan, termasuk kekerasan berbasis gender serta persoalan perempuan dan anak,” lanjutnya.

Selain membahas keberlanjutan layanan bagi kelompok rentan, MDMC juga mendorong penyediaan hunian darurat bagi keluarga terdampak. Hunian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi agar keluarga penyintas secara bertahap tidak lagi tinggal dalam pengungsian komunal dan dapat memperoleh tempat tinggal dengan kebutuhan dasar yang memadai.

“Solusi dari MDMC adalah pembuatan hunian darurat agar keluarga para penyintas tidak lagi berada pada pengungsian yang komunal, tetapi memiliki tempat tinggal masing-masing dengan kebutuhan dasar yang tersedia,” jelas Budi.

Dalam kegiatan tersebut, Muhammadiyah juga menyerahkan peralatan kesehatan untuk mendukung keberlanjutan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Peralatan tersebut diberikan kepada Klinik ‘Aisyiyah di Aceh Tamiang yang direncanakan segera kembali beroperasi serta Klinik Muhammadiyah di Banda Aceh.

Melalui evaluasi dan pembelajaran bersama tersebut, MDMC mendorong agar pengalaman selama masa tanggap darurat dapat menjadi dasar untuk memperkuat layanan pada fase pemulihan. Perlindungan perempuan dan anak, layanan kesehatan reproduksi, pencegahan dan penanganan KBG, serta pemenuhan kebutuhan kelompok rentan menjadi bagian yang perlu terus diperhatikan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.(*)

Aulia Taarufi
Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah

Leave A Comment

All fields marked with an asterisk (*) are required

X